Susahnya Cari Hiburan Murah di Jantung Jakarta

Susahnya Cari Hiburan Murah di Jantung Jakarta

- detikNews
Rabu, 09 Mar 2011 13:35 WIB
Jakarta - Ergi (12) hanya memandang lepas teman-temannya bermain di tengah lapangan. Dia sendiri cukup menonton di pingir lapangaan. Sebab, Ergi tak lagi mempunyai kaki yang bisa membawanya berlari ke sana ke mari.

"Tertabrak kereta 5 tahun lalu. Sekarang ngggak bisa main, hanya nonton saja," kata
Ergi yang duduk di kursi rodanya. Ergi memandang teman-temannya yang hilir mudik menendang bola di sebuah tanah lapang di Setiabudi Utara, Jakarta Selatan, Rabu (9/3/2011).

Namun, bagi teman-temannya pun, mencari arena bermainย  tidaklah mudah. Tanah lapang, pekarangan, atau pun taman sudah beralih fungsi menjadi aktivitas ekonomi. Di pagar,
dibikin gedung perkantoran, di kavling menjadi lahan parkir, disulap menjadi apartemen, rumah kontrakkan atau pangkalan taksi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Yang deket ya tinggal ini," kata Andrea (10) sambil menendang bola di kakinya.

Namun kini tanah lapang itu juga tidak bisa digunakan bocah-bocah itu bermain. Sejak sepekan lalu, tanah lapang itu diubah menjadi arena pasar malam dan hiburan rakyat oleh kelompok pasar malam 'Sinar Kelana'.

Berbagai hiburan sederhana dapat dinikmati seperti bianglala, komedi putar, arena mandi bola dan rumah hantu. Tiap permainan dipungut bayaran Rp 5 ribu untuk durasi 10 menit.

"Lumayan dekat. Murah dan nggak harus ke mall atau Ancol. Kalau ke sana harus bawa uang ekstra buat beli jajan, makan atau minum. Biasanya ke sana kalau sekalian belanja," ucap lndri (33) seorang warga Karbela, Setiabudi yang sedang mengajak anak perempuanya mandi bola.

Menurut salah seorang pemilik permainan mandi bola, Rudi (50), pasar malam 'Sinar Kelana' tersebut membidik pangsa pasar masyarakat kelas bawah Jakarta. Lokasinya keliling seputaran Jakarta Selatan, Jakarta Timur dan Jakarta Pusat. Lokasi yang dipilih benar-benar paling sederhana, area tanah lapang yang bila gerimis saja permainan langsung bubar (misbar).

Nampaknya, 'Sinar Kelana' tidak mau menyodok ke pasar yang lebih tingggi karena kalah modal, jenis permainan dan proteksi dari pemerintah. "Kita nyari receh-receh saja. Yang gede ya kita kalah saing. Ini saja seringkali kalah tempat kalau lokasi diibooking buat kkegiatan lain," kata Rudi.

Sebagai arena bermain dan roda ekonomi, pasar malam sempat berjaya tahun 80an hingga
90an. Saat itu, 'Sinar Kelana' tidak pernah sepi panggilan. Hampir di tiap hajatan,
pesta rakyat, ataupun keramaian, kehadiranya dielu-elukan.

Tetapi seiring perkembangan permainan abad digital dan lemaahnya proteksi pemerintah, hiburan rakyat tersebut tersingkir. Pemerintah lebih senang memberi fasilitas dan proteksi kepada pengusaha hiburan kelas menengah dan atas yang beromzet banyak.

"Kalau sekarang ya asal buat makan. Gerilya dari lokasi satu ke lokasi lain," kata Rudi seakan protes dan tidak mau lekang dimakan zaman.

(Ari/ken)


Berita Terkait