Sikap politik PKS memang tergolong aneh. PKS tiba-tiba menawarkan rekonsolidasi koalisi ditengah terjangan isu evaluasi koalisi. Padahal sebelumnya, Sekjen PKS Anis Matta berulangkali menegaskan kesiapan PKS menjadi partai oposisi.
Tak hanya memendam kata-kata oposisi, Ketua FPKS Mustafa Kamal bahkan menegaskan keinginan PKS kembali merawat jalinan komunikasi di koalisi pendukung pemerintahan. Ditanya tentang pernyataan keras Anis Matta, Mustafa Kamal bahkan tak mau berkomentar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seiring sikap politik PKS ini, keberadaan Sekjen PKS Anis Matta, Presiden PKS Luthfie Hasan Ishaaq, dan Wasekjen PKS Fachri Hamzah yang selama ini vokal menghadapi pemerintah menghilang dari peredaran. Luthfi Hasan yang menghadiri rapat konsolidasi di FPKS pagi ini bahkan tak mengikuti rangkaian konferensi pers.
Menghilangnya Anis Matta dari peredaran bukan tanpa sebab. Sumber detikcom di internal Partai Golkar menuturkan kemungkinan dipertahankannya keanggotaan Golkar dan PKS di koalisi. Karena inilah PKS berpikir dua kali untuk terus meneriakkan semangat oposisi.
Wasekjen PKS Mahfudz Siddik membeberkan keberadaan Anis Matta. Anis saat ini sedang melenggang ke luar negeri ditengah penantian keputusan final evaluasi koalisi yang dilakukan Presiden SBY.
"Pak Anis masih di Sudan dalam rangka Muhibah DPR sampai tanggal 11 Maret, kunjungan pimpinan DPR ke Sudan yang negara sahabat," tutur Mahfudz.
Mahfudz pun menuturkan kepergian Anis, murni untuk keperluan dinas pimpinan DPR. Sikap politik PKS yang melunak, dijelaskan Mahfudz memang bagian dari keputusan rapat DPP yang dihadiri Anis Matta.
"Pada prinsipnya ketika Pak SBY akan melakukan evaluasi terhadap koalisi terhadap koalisi sikap resmi PKS menunggu apa yang menjadi keputusan Presiden SBY. PKS tetap ada di dalam koalisi dan memang berharap persoalan di koalisi dapat diperbaiki," tandasnya.
(van/ndr)











































