"100 tahun setelah dicananagkan International Womens Day, keadan tidak juga banyak berubah. Untuk orang miskin tidak berubah. Memang ini melahirkan Musdah Mulia, Sri Mulyani, Ibu Negara, Megawati, tapi itu bukan tanda kemajuan. Ironis sekali, wanita mengalami ketertindasan dan itu tanda bahwa persamaan dan penghapusan belum terlaksana," kata aktivis perempuan Nursyahbani Katja Sungkana.
Hal ini disampaikan dalam deklarasi Komunitas untuk Indonesia yang Adil dan Setara (Kias) di Perpustakaan Nasional, Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat, Selasa, (8/3/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami meminta pemerintah memberikan perlindungan kepada perempuan sesuai konstitusi," tandas mantan anggota DPR dari PKB ini.
Dalam kesempatan tersebut juga hadir para tokoh gerakan perempuan seperti Musdah Mulia, Shahnaz Haque serta Marzuki Wahid. Dalam orasi poltiknya, Nursyahbani juga mengingatkan kembali awal mula Hari Perempuan Internasional yang diawali 100 tahun silam. 100 tahun lalu, kebakaran tragis menimpa Pabrik Triangle Shirtwaist di New York pada 1911 yang mengakibatkan 140 orang perempuan kehilangan nyawanya.
"Bung Karno pun sering menyebut-nyebut peristiwa ini dalam pidatonya ketika menyinggung perempuan," pungkas Nursyahbani.
(asp/gun)










































