Duet Wiranto-Gus Solah Terkuat

Duet Wiranto-Gus Solah Terkuat

- detikNews
Rabu, 26 Mei 2004 20:08 WIB
Jakarta - Dukungan PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) terhadap duet Wiranto-Gus Solah telah mengubah peta politik dalam pemilihan presiden nanti. Dari modal awal suara yang dimiliki, untuk sementara duet Wiranto-Gus Solah merupakan duet yang paling kuat. Dukungan PKB tentu menjadi tambahan modal signifikan bagi Wiranto-Gus Solah. Ingat, dalam pemilu legislatif 5 April lalu, partai produk NU (Nahdlatul Ulama) ini nangkring di posisi tiga besar dengan jumlah suara mendekati 12 juta atau sekitar 10,57 persen. Jika PKB bisa mengarahkan massanya secara utuh, bisa dipastikan Wiranto-Gus Solah akan bisa melempangkan jalannya menuju putaran kedua. Sebelumnya, Wiranto sudah punya modal dari Partai Golkar sebagai pemenang Pemilu 2004 dengan 24,5 juta suara atau 21,58 persen. Dengan hitungan kasar, dengan didukung Golkar dan PKB, maka duet Wiranto-Solah sudah mengantongi 36,5 juta suara atau sekitar 32,15 persen. Bila ditambah dengan dukungan PKPB yang memiliki suara 2.4 juta (2,11%) dan Partai PDK yang memiliki suara 1.3 juta (1,16%), maka modal awal duet ini makin menggelembung saja. Jika ditotal, maka modal awal duet Wiranto-Solah ini bisa mencapai sekitar 40,2 juta pemilih atau sekitar 35,42 persen. Wow! Bila dibandingkan dengan modal awal dari capres lain, tentu modal awal Wiranto ini paling besar. Untuk sementara, Duet Mega-Hasyim hanya memiliki modal awal dari PDIP dan PDS. Dalam pemilu legislatif, PDIP mendapatkan 21 juta (18,53%) dan PDS 2,4 juta (2,13%). Jika ditotal, modal awal Mega-Hasyim hanya 23,4 juta atau setara 20,66 persen. Duet SBY-Kalla memiliki modal awal dukungan dari Partai Demokrat (PD), PKPI, dan PBB. Dalam pemilu lalu, PD nongkrong di posisi lima besar dengan perolehan suara sekitar 8,5 juta (7,45%), PKPI memperoleh 1,4 juta (1,26%), dan PBB memperoleh sekitar 3 juta suara (2,62%). Jika ditotal, modal awal SBY-Kalla mencapai 12,9 juta atau 11,33 persen. Sementara duet Amien-Siswono memiliki modal awal dengan dukungan PAN, PBR, PNI Marhaenisme, PBSD, PNBK, dan PSI. Dalam pemilu 5 April 2004, PAN mendapatkan suara 7.3 juta (6,44%), PBR mendapatkan sekitar 2,8 juta suara (2,44%), PNI Marhaenisme 929 ribu (0,81%), PBSD 636 ribu (0,56%), PNBK 1.2 juta (1,08%), dan PSI 679 ribu (0,60%). Bila ditotal maka modal awal Amien-Siswono sekitar 13,6 juta suara atau sekitar 11,93 persen. Terakhir, duet Hamzah-Agum, untuk sementara hanya punya modal awal dukungan dari PPP. Dalam Pemilu 2004, PPP mendapatkan suara 9,2 juta atau sekitar 9,15%. Dilihat dari modal awal ini, secara berturut-turut duet yang memiliki peluang paling besar adalah Wiranto-Gus Solah dengan modal 40,2 juta suara (35,42 %), Mega-Hasyim bermodal 23,4 juta suara (20,66%), Amien-Siswono bermodal 13,6 juta suara (11,93%), SBY-Kalla dengan modal 12,9 juta suara (11,33 %), dan Hamzah-Agum memiliki modal 9,2 juta suara (9,15%). Memang, ini hanya gambaran modal kasar. Dalam kenyataannya nanti, modal ini tidak akan bisa tergambarkan secara utuh seperti itu. Ingat, pemilihan presiden sangat tergantung dengan keputusan pribadi orang, bukan lagi terkait partai politik. Demikian, setidaknya pendapat para pengamat politik. Bisa jadi, dukungan terhadap Wiranto-Gus Solah tidak sebesar itu. Pasalnya, suara PKB yang mayoritas orang NU itu dipastikan terpecah menjadi beberapa bagian, ada yang masuk ke duet Mega-Hasyim, SBY-Kalla, dan juga duet Hamzah-Agum. Begitu juga, suara Partai Golkar juga tentu tidak akan utuh mengalir ke Wiranto seperti hasil Pemilu legislatif. Suara duet Amien-Siswono juga akan terdongkrak, karena PP Muhammadiyah penuh mendukungnya. Begitu juga pendukung duet SBY-Kalla juga kemungkinan besar akan mendapat limpahan suara dari orang-orang dari partai lain. Belum juga dihitung limpahan suara PKS yang pada Pemilu lalu mendapatkan 8,32 juta suara atau setara 7,32 persen. Sampai sekarang, PKS belum mengarahkan massanya untuk mendukung calon presiden tertentu. Namun, diperkirakan suara massa PKS mayoritas masuk ke Amien Rais dan Wiranto. Memang susah untuk memprediksi duet siapa nanti yang akan memenangkan pertarungan. Yang paling gampang ya melihat modal awal masing-masing capres. Modal awal mereka berkurang atau bertambah tergantung masing-masing capres-cawapres menggunakan kesempatan yang hanya sebulan setengah lagi ini untuk menggaet masyarakat.Yang jelas, dengan modal awal ini, duet Wiranto-Gus Solah untuk sementara harus diakui sebagai duet paling kuat. Tentu ini berkah bagi Wiranto, karena mendapat dukungan PKB, meski kabarnya PKB meminta konsesi 5 menteri dan 2 menteri koordinator. Tentu nasib akan berkata lain, bila tanggal 23 Juli 2001 lalu, Gus Dur benar-benar membubarkan Partai Golkar. Beruntung, dekrit yang dikeluarkan Gus Dur saat itu tidak mendapat dukungan - hanya didukung oleh PKB secara politik -, sehingga Partai Golkar dan PKB kini bisa berjalan beriringan. (asy/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads