"Itu hanya Tuhan dan Pak SBY yang tahu," jawab Staf Khusus Presiden Bidang Informasi, Heru Lelono, di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (7/3/2011).
Memang isu reshuffle keanggotaan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II, sudah berlangsung menjelang setahun pertama Pemerintahan SBY-Boediono pada akhir Oktober 2010. Dua pekan terakhir memanas kembali menyusul kisruh dalam Setgab Koalisi pasca voting penggunaan hak angket DPR untuk isu mafia pajak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tidak ada wacana-wacanaan, ini konkret karena sudah akan dibicarakan," tegas Heru.
Pria asal Jawa Timur itu tidak membantah bahwa kisruh politik dalam Setgab Koalisi jadi salah satu pertimbangan dilakukan reshuffle. Tetapi prioritasnya adalah mendorong pemerintahan yang lebih efektif dengan percepatan kinerja dan meningkatkan capaian.
Maka reshuffle kabinet bukan hanya mempertimbangkan faktor keterwakilan kader dari parpol pendukung. Melainkan justru lebih menekankan pada kepada hasil evaluasi kinerja dan capaian menteri bersangkutan yang dilakukan oleh UKP4.
"Rehuffle bukan karena perimbangan, tapi karena betul-betul kinerja yang dinilai Presiden. Mencari 33 orang untuk jadi menteri, bukan masalah sulit. Tapi sebetulnya yang penting agar pemerintahan berjalan lebih efektif, parpol di dalam dan luar koalisi berjalan baik," papar Heru.
(anw/lh)











































