Nirmala yang Berbuah Politik

Nirmala yang Berbuah Politik

- detikNews
Rabu, 26 Mei 2004 14:50 WIB
Jakarta - Mungkin Ny Martha Toni, ibunda Nirmala, tidak pernah bermimpi akan bertemu presiden. Namun, tiba-tiba saja Ny Martha bisa bertemu dengan pemimpin negeri ini, Presiden Megawati. Mungkin perasaan Ny Martha, penduduk dari desa di Kupang, NTT ini, bercampur antara gembira dan sedih yang mendalam. Gembira, karena bisa bertemu presiden, sedih karena anaknya, Nirmala, menjadi korban penyiksaan luar biasa dari bekas majikannya di Malaysia. Sikap pemerintah yang simpatik atas kisah sedih yang menimpa Nirmala ini memang patut diacungi jempol. Pemerintah segera bertindak dalam proses hukum dan juga segera memfasilitasi keberangkatan Ny Martha ke Kuala Lumpur untuk dipertemukan dengan anaknya. Entah, sikap pemerintah ini terkait politik (baca: pemilihan presiden) atau tidak, yang pasti sikap pemerintah harus dihargai. Walau sebenarnya, kasus-kasus serupa yang menimpa TKW ataupun TKI di luar negeri, sebelumnya juga bejibun. Sebenarnya, banyak TKW yang meninggal di luar negeri dengan nasib yang tidak jelas, sementara pemerintah hanya menanggapi biasa-biasa saja. Bisa jadi, kejadian yang menimpa Nirmala membuat pemerintah semakin memperhatikan nasib TKI atau TKW di luar negeri. Dan inilah yang tampaknya menjadi concern Megawati sampai akhirnya mengundang Ny Martha untuk bertemu dengannya. Pertemuan Mega dengan Ny Martha ini juga tampak lain dari biasanya. Sebelumnya, Mega dijadwalkan bertemu Ny Martha di Istana pada Selasa (25/5/2004) pukul 19.00 WIB. Namun, pertemuan itu ditunda. Mega lalu mengutus putrinya, Puan Maharani, untuk menemui Ny Martha dan menyampaikan sejumlah pesan. Pertemuan Mega dengan Ny Martha kemudian ditunda dan dilakukan pada Rabu (26/5/2004) pukul 09.00 WIB. Bukan di Istana dan bukan di kediaman presiden di Jl. Teuku Umar. Tapi, di rumah pribadinya di Kebagusan, Jakarta Selatan. Pemilihan tempat bisa jadi ada pertimbangan tertentu. Tapi, yang jelas, pertemuan yang tampak akrab dan dilakukan di depan wartawan itu berlangsung di teras di belakang rumah Mega di Kelurahan Kebagusan itu. Pertemuan juga berlangsung santai. Ny Martha, yang tidak bisa berbahasa Indonesia itu, ditemani oleh paman Nirmala, Daniel Bire, Ketua Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja (Apjati) NTT Abraham Liyanto dan Kepala Disnaker NTT Ignatius Lorentius. Sedangkan Megawati tampak didampingi Wasekjen PDIP Pramono Anung dan anggota FPDIP Dwi Ria Latifa. Dengan kehadiran tokoh-tokoh partai, sekilas memang pertemuan itu beraroma politik. Apalagi, selama ini Mega memang telah mengubah sikapnya dalam berbagai kesempatan. Terkesan lebih populis. Dan sikap-sikap seperti ini juga sah-sah saja, karena sebagai calon presiden, Megawati juga dituntut untuk cepat merespons sebuah peristiwa. Dan dalam kasus Nirmala ini, tidak hanya Megawati yang memperlihatkan simpatinya dan responsnya. Pada Selasa (26/5/2004) pukul 19.00 WIB, Ny Martha juga telah bertemu calon presiden dari PAN yang kini menjabat Ketua MPR Amien Rais. Namun, Amien tidak mengundang Ny Martha. Dia yang mendatangi Ny Martha di penginapannya. Pertemuan pun berjalan singkat dan tampak santai. Amien yang saat itu mengenakan pakaian batik menyampaikan rasa simpati atas kejadian yang menimpa Nirmala dan memberikan sejumlah bantuan. Dua tokoh ini, Amien dan Mega, akhir-akhir ini memang terkesan beradu cepat dalam merespons sesuatu. Tapi, tampaknya Mega lebih kentara perubahannya, karena sebelumnya, Mega lebih terkesan tertutup. Sebenarnya, Mega dan Amien pernah juga merespons kasus pembebasan kamerawan RCTI Fery Santoro beberapa waktu lalu. Amien menemui Fery setibanya di bandara Soekarno-Hatta, sedangkan Megawati memanggil Fery ke istana. Memang, banyak jalan menuju kursi presiden. (asy/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads