"Yang bersangkutan sudah mengakui perbuatannya dan bersedia untuk merawat sang bayi. Mungkin dia membuang bayinya karena gugup dan malu. Ada rasa takut," kata Kanit Reskrim Polsek Pancoran AKP Budi Cahyono saat dihubungi detikcom, Senin (7/3/2011).
Karena pertimbangan itu, polisi pun memutuskan untuk tidak meneruskan kasus hukum Inne. "Atas dasar pertimbangan kemanusiaan, pihak keluarganya juga sudah meminta agar kasus ini tidak dilanjutkan. Jadi tidak diteruskan hukumnya," kata Budi.
Namun polisi tidak mengetahui pasti ke mana Inne dan bayinya kini tinggal. Namun yang jelas, keluarga Inne sudah mengetahui dan menengok Inne dan bayinya yang dirawat di Puskesmas Pancoran.
Sebelumnya petugas Puskesmas Pancoran mengatakan, Inne dan bayinya telah dijemput oleh keluarga pulang. Namun mereka juga tidak mengetahui ke mana Inne dan bayinya pulang. Pihak keluarga yang dihubungi detikcom tidak bersedia memberikan keterangan.
Pada Jumat lalu, Inne dan bayinya dibawa ke Puskesmas Pancoran setelah kondisi keduanya kurang sehat. Sehabis melahirkan sendiri, Inne mengalami pendarahan, sedangkan bayinya kedinginan karena sempat ditaruh di luar tanpa pakaian oleh Inne.
Kepada warga sekitar kontrakan yang ditinggalinya, Inne mengaku menemukan bayi di depan kontrakannya. Namun sandiwara Inne itu ketahuan setelah warga melihat noda darah di baju yang dipakai Inne.
Inne pun mengaku membuang anak yang baru dilahirkannya itu karena panik dan takut tidak bisa mengurusnya. Inne masih mahasiswa dan belum bekerja. Inne mengaku bapak dari anak itu bernama Erfin, seorang mahasiswa di Ungaran, Jawa Tengah.
(ken/nrl)











































