"Keuntungannya banyak. Pertama akan memberi kesempatan pada kader-kadernya untuk duduk di kabinet. Ini akan memberikan pengalaman yang berharga," ujar Manajer Public Affair Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanuddin Muhtadi dalam perbincangan dengan detikcom, Senin (7/3/2011).
Selain itu, di kabinet Gerindra bisa membuktikan program-programnya soal ekonomi kerakyatan. Jika berhasil, pada Pemilu 2014 tentunya ini akan menjadi nilai tambah bagi Gerindra.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Burhan, masuk koalisi juga akan membuat Gerindra dekat dengan kekuatan di DPR. Gerindra bisa membujuk Partai Demokrat dan Partai Golkar serta partai lainnya untuk menurunkan angka parliamentary threshold dan presidential threshold.
"Kalau partai-partai besar ingin parliamentary threshold 5 persen saja, itu kan sudah menjadi lonceng kematian bagi Gerindra," tambahnya.
Namun banyak juga hal negatif jika Gerindra masuk kabinet. Hal terbesar adalah partai ini akan dicap sebagai partai transaksional yang dengan mudahnya berganti pandangan politik. Hal ini jelas merugikan karena Gerindra sudah terlanjur keras mengecam berbagai kebijakan pemerintah, terutama soal perekonomiannya.
"Tentunya masyarakat akan berpikir, kok plin-plan. Kok ternyata mau masuk kabinet. Ini tentu akan berpengaruh pada masa depan partai," tutup Burhan.
(rdf/nrl)











































