Kelangkaan Premium di Riau Meluas, Warga Meradang

Kelangkaan Premium di Riau Meluas, Warga Meradang

- detikNews
Minggu, 06 Mar 2011 17:16 WIB
Pekanbaru - Kelangkaan BBM jenis premium meluas ke berbagai daerah di Provinsi Riau. Warga setempat marah, sebab kelangkaan yang sudah berlangsung selama hampir 4 hari bukannya berangsung reda, malah meluas ke kabupaten lain.

Berbagai keluhan yang dihimpun dari Info Anda menggambarkan betapa masyarakat kecewa atas kelangkaan premium ini.

"BBM di Pekanbaru kok langka ya? Kota penghasil minyak bisa kekurangan minyak. Apa kata dunia?" keluh Donny Junanto, dalam Info Anda, Minggu (6/3/2011).

Antrean panjang terjadi di seluruh SPBU di Pekanbaru. Menurut Anzas, seorang warga, antrean BBM rata-rata mencapai 200 meter. Bahkan menurut Junedi, ada warga yang terpaksa mendorong mobil ke SPBU.

"Antrian sangat panjang di setiap SPBU di Pekanbaru. Bahkan ada mobil yang didorong menuju SPBU karena kehabisan BBM," kata dia.

Kondisi serupa juga dilaporkan Rony terjadi Kabupaten Pelalawan, sejak Sabtu (5/3) kemarin. "Semua SPBU yang ada di sekitar Pangkalan Kerinci, Pelalawan tidak punya stok lagi, begitu juga dengan pedagang bensin eceran," keluhnya.

Kelangkaan BBM ini pun berdampak dengan melambungnya harga premium. Harga jual perliter yang biasanya Rp 5000 di tingkat pengecer, kini melambung tiga kali lipat.

"HET (harga eceran tertinggi) Premium di sepanjang Jalan Lintas Timur jadi Rp 15.000 per liter," kata Surahmat.

"Bensin langka di Kabupaten Inhu, Rengat, Airmolek, LBJ dan sekitarnya. Harga eceran sekarang
mencapai Rp 15.000 per liter," keluh Henky.

Sementara itu, Pertamina meminta maaf kepada masyarakat Riau yang mengalami kelangkaan BBM sejak empat hari terakhir. Penyebabnya adalah keterlambatan pasokan baru akibat pengetatan quality control BBM jenis premium.

"Kami menyampaikan permohonan maaf kepada konsumen di Pekanbaru dan sekitarnya atas keterlambatan pasokan premium," ujar Vice President Corporate Communication Pertamina Mochamad Harun lewat rilis yang diterima detikcom, Minggu (6/3/2011).

(fay/lh)


Berita Terkait