Rokok Membuat Negara kian Miskin

Rokok Membuat Negara kian Miskin

- detikNews
Rabu, 26 Mei 2004 09:40 WIB
Jakarta - Rokok yang selama ini dinyatakan sebagai penyumbang pemasukan besar di negeri ini, disebut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) justru disebut sebagai biang sebuah negara miskin kian melarat.Buntutnya, WHO memperingatkan negara-negara negara-negara berkembang untuk bersikap keras melawan rokok. Peringatan ini dikeluarkan WHO setelah melakukan studi pada penggunaan rokok dan dirilis untuk memperingati Hari Tanpa Rokok Dunia yang jatuh pada 31 Mei nanti.WHO menyatakan, dari 1,3 miliar perokok di dunia, sebagian besar tinggal di negara sedang berkembang yang tingkat pendapatan penduduknya memprihatinkan. WHO mengambil contoh Bangladesh. Diperkirakan rumah tangga termiskin di pecahan India itu tingkat konsumsi rokok mencapai 10 kali lipat dibandingkan pengeluaran di bidang pendidikan. Sedangkan di Indonesia konsumsi rokok mencapai 15% total pengeluaran pada keluarga berpenghasilan paling rendah.Kemiskinan, termasuk dampak merokok pada negara-negara miskin adalah tema Hari Tanpa Rokok Dunia pada tahun ini. Momen tahunan ini selalu dimanfaatkan WHO untuk mengingatkan bahaya merokok dan mendorong usaha menghentikan kebiasaan merokok.Industri rokok menyedot tenaga kerja dan pemasukan yang signifikan di banyak negara berkembang dan ada kekhawatiran bahwa kontrol yang lebih ketat atau harga yang lebih mahal akan berdampak pada ekonomi mereka.Namun Burke Fishburn, ilmuwan WHO dan aktivis anti-merokok yang berbasis di Manila menyatakan, merokok justru menimbulkan ongkos kesehatan raksasa dan menurunkan produktivitas dan menyedot pemasukan negara yang didapat negara berkembang tersebut."Data terbaru misalnya Cina, mulai pertengahan 1990-an diperkirakan ongkos perawatan kesehatan langsung dan tak langsung akibat rokok membebani negara sekitar 6,5 miliar dolar AS setiap tahun," paparnya.Fishburn menyebut sejumlah negara berkembang di Asia, seperti Malaysia dan Filipina, berusaha mengurangi kebiasaan merokok dengan kampanye dan UU anti merokok. Tapi Cina yang merupakan negara perokok paling besar di dunia, lamban menangani kasus ini. WHO memproyeksikan berdasarkan studi sebelumnya, rokok akan membunuh 3 juta orang Cina dalam setahun pada pertengahan abad ini. (nrl/)



Berita Terkait