Acara aqikah sekaligus penabalan nama sang bayi digelar dengan sederhana tepatnya di Mesjid Ar-Ridha, Jl. Darussalam, Medan, Sabtu (5/3/2011).
Sifa yang tercatat sebagai warga Jl. Garu VI, Kelurahan Harjosari I, Kecamatan Medan Amplas ini digunting rambutnya oleh seorang ustadz dan tokoh masyarakat setempat serta disaksikan warga dan Pejabat Pemko Medan sekitar pukul 11.00 WIB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aqikah dan penabalan nama digelar warga karena sang bayi yatim piatu, setelah kedua orangtuanya, Muhammad Fauzi dan Muniroh, meninggal dunia akibat terjangkit penyakit HIV/AIDS beberapa waktu lalu.
Selama ini, Sifa dirawat oleh Serikan Peduli Kesehatan Sumatera (SPKS), salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang peduli terhadap kesehatan anak di Medan.
Pendamping sang bayi, Dewi Sundari mengatakan, kondisi kesehatan Sifa saat ini masih labil. Selain terjangkit HIV/AIDS, Sifa juga menderita radang ternggorokan dan alergi kulit. Hingga kini Sifa belum terdaftar sebagai peserta Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) salah satu program kesehatan di Medan.
"Kami hanya berharap Pemko Medan memudahkan proses perawatan Sifa dengan mendaftarkannya sebagai peserta Jamkesmas," kata Sundari.
Sementara pemuka masyarakat setempat, Lokot Roy mengatakan, warga diharapkan tidak lagi alergi dengan penderita HIV/AIDS yang kerap tidak mendapat tempat dalam sosial masyarakat.
"Bukan dijauhi, namun diberi perhatian. Penderita HIV/AIDS butuh jaminan kesehatan dan diterima ditengah kehidupan masyarakat," kata Lokot.
Sifa lahir prematur pada 20 Desember 2010 lalu tanpa melewati operasi dengan berat 1,7 kilogram. Tiga hari setelah melahirkan buah hatinya itu, sang ibu bayi meninggal dunia akibat HIV/AIDS. Sedangkan sang ayah meninggal dunia lebih dahulu akibat penyakit yang sama sekitar lima bulan lalu.
(rul/aan)











































