Wiranto dan Prabowo Harus Jujur Soal Penculikan Mei 1998
Selasa, 25 Mei 2004 18:07 WIB
Jakarta -
Keluarga korban penculikan Mei 1998 kembali menggugat. Mereka menantang Prabowo dan Wiranto berbicara sebenarnya tentang peristiwa itu.Peristiwa penculikan Mei 1998 itu kembali dibicarakan keluarga korban dan sejumlah aktivis dalam rangka menyambut Pekan Penghilangan Paksa Internasional, di Toko Buku QB, Jl. Kemang Raya, Jakarta, Selasa (25/5/2004).Ketua Ikatan Keluarga Orang Hlang (IKOHI) mendesak Komnas HAM melanjutkan penyelidikan kasus-kasus penghilangan paksa di Indonesia. Selama ini, kata Mugi, penyelidikan Komnas HAM tidak memiliki fokus yang jelas."Sebenarnya sudah jelas, bahwa oarang yang paling bertanggung jawab terhadap Tragedi Mei'98 adalah Prabowo dan Wiranto. Mulai sekarang, kita akan berusaha agar Prabowo dan Wiranto menjelaskan posisi serta nasib orang-orang yang masih belum ditemukan," ujar Mugi.Mantan Koordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Munir mengatakan, dua mantan Perwira Tinggi TNI itu harus berani berkata jujur tentang apa yang terjadi pada Mei 1998. Selama ini, kata Munir, Mantan Danjen Kopassus dan Mantan Panglima TNI itu selalu berkelit."Dari pada Prabowo dan Wiranto terus menghindar, lebih baik mereka mengambil langkah gentle dengan datang ke Komnas HAM untuk menyampaikan kebenaran. Kami tidak akan berhenti mendesak dan berjuang sampai jelas keberadaan para korban," tukas Munir.Taian Siahaan, orang tua Ucok Munandar, aktivis 1998 yang sampai saat ini tidak jelas nasibnya mengatakan, peristiwa penculikan Mei 1998 tidak dilupakan. Taian berharap pemerintah menuntaskan kasus yang menyebabkan belasan ibu kehilangan anak ini."Menurut kami yang bertanggung jawab adalah Prabowo dan Wiranto. Kalau Wiranto jadi presiden, pasti kejadian itu tidak akan pernah terungkap," katanya getir.
(djo/)










































