Hal itu disampaikan putra Khadafi, Seif al-Islam dalam wawancara dengan stasiun televisi Inggris, Sky News.
Dalam wawancara itu, Seif menekankan pentingnya Brega sebagai pelabuhan minyak. Karenanya pemerintah Libya tak bisa membiarkan Brega jatuh ke tangan pemberontak-pemberontak Libya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seif menegaskan, bom-bom yang dijatuhkan pasukan Libya bukan untuk membunuh warga sipil. "Pertama-tama, bom-bom itu cuma untuk menakuti mereka supaya pergi, bukan untuk menyerang pelabuhan itu. Bukan untuk membunuh rakyat kami," tutur Seif.
Putra Khadafi itu bersikeras bahwa serangan udara itu bukan ditujukan untuk warga sipil. "Brega bukan kota. Brega merupakan pelabuhan minyak," kata Seif.
Ketika ditanya apakah ada warga yang tinggal di Brega, Seif berujar: "Tidak, Kota Brega jauh dari sana, saya bicara tentang pelabuhan dan kilang minyak di sana."
Seif menegaskan, pelabuhan Brega merupakan pusat minyak dan gas Libya. "Kami semua, kami makan, kami hidup karena Brega. Tanpa Brega, enam juta orang tak punya masa depan, karena kami mengekspor semua minyak kami dari sana," cetus Seif.
"Tak seorang pun akan mengizinkan milisi menguasai Brega, itu seperti Anda mengizinkan seseorang menguasai pelabuhan Rotterdam di Belanda," pungkas Seif.
Hingga saat ini Khadafi terus bersikeras menolak mundur. Desakan agar Khadafi mundur terus mengalir, termasuk dari Presiden AS Barack Obama yang mengatakan Khadafi harus mundur sekarang karena tak lagi mempunyai legitimasi untuk memimpin Libya.
(ita/nrl)










































