Dewi, misalnya, yang tinggal kawasan Jl Amil, Pejaten Barat, Jakarta Selatan. Setiap hari dia harus berangkat dari rumah pukul 06.00 WIB untuk pergi ke kantornya di daerah Kedoya, Jakarta Barat. Biasanya, dia hanya butuh waktu 1,5-2 jam untuk sampai ke kantornya dengan menggunakan TransJ, yang ditumpanginya mulai di halte Buncit Indah (koridor VI Ragunan-Dukuh Atas). Namun sejak beberapa trayek angkutan umum dihapus, dia membutuhkan waktu setidaknya 3 jam.
"Saya sudah berangkat pagi-pagi, menunggu TransJ pukul 06.00 WIB di Halte Buncit Indah, tapi TransJ yang lewat selalu penuh. Untuk mencapai Halte Kuningan Timur saja, saya butuh waktu setidaknya 45 menit," kata Dewi kepada detikcom, Jumat (4/3/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari Kuningan Timur, Dewi berjalan kaki ke Halte Kuningan Barat. Bagaimana kondisinya? Ternyata tidak jauh berbeda. Dia harus mengantre bersama puluhan dan bahkan mungkin ratusan orang lainnya.
"Di Kuningan Barat sebenarnya bus nggak terlalu lama datangnya, tapi penuh-penuh terus. Mungkin karena ada trayek bus yang rutenya mirip sama Koridor Pinangranti-Pluit, jadi penumpang TransJ-nya makin banyak," sambung perempuan 25 tahun ini.
Ketika harus transit lagi di Halte Grogol untuk ganti bus, keadaan pun tidak jauh berbeda. Antrean panjang sudah menjadi pemandangan umum.
"Kalau sudah antre panjang begitu, akhirnya saya ke kantor naik ojek," imbuhnya. Itu artinya Dewi harus merogoh kocek dalam-dalam, karena ongkos ojek dari halte Grogol ke kantornya di Kedoya mencapai Rp 15 ribu.
Keadaan yang tidak jauh berbeda pun terjadi saat jam pulang kantor. Suara-suara keluhan di beberapa halte busway kerap terdengar.
"Ini gara-gara P6 dihapus, saya jadi naik TransJ. Sudah berdesak-desakan, menunggunya lama lagi. Mau pakai kendaraan sendiri, jalan regulernya juga padat. Saya jadi bingung," ucap Anti, salah satu pengguna busway Koridor IX (Pinangranti-Pluit). P6 adalah bus rute Kampung Rambutan-Grogol lewat Jl Gatot Subroto.
Karena bersinggungan dengan busway Koridor IX, sembilan trayek bus reguler dicabut. Bus tersebut yakni 3 trayek PPD dan 6 trayek Mayasari Bakti dengan jumlah keseluruhan bus mencapai 189 bus. Pencabutan trayek ini dilakukan sejak awal Februari 2011.
Untuk trayek PPD, rute yang dicabut atau dialihkan antara lain, PAC 13 jurusan Kampung Rambutan-Muara Angke, PPD 46 jurusan Kampung Rambutan-Grogol, dan P37 jurusan Blok M-Muara Angke, sedangkan untuk trayek Mayasari Bakti antara lain, P6B jurusan Kampung Rambutan-Muara Angke, PAC74 jurusan Kampung Rambutan-Tangerang, P6 jurusan Cililitan-Grogol, P39 jurusan Grogol-Bekasi, P6A jurusan Kampung Rambutan-Kalideres, dan PAC26 jurusan Grogol-Bekasi.
Akhir Januari lalu, Kadishub DKI Jakarta, Udar Pristono menyampaikan, ada 77 jumlah bus di koridor IX. Bus tersebut, katanya, cukup memadai untuk mengakut 25.000 orang penumpang per harinya. 77 Bus tersebut terdiri dari 69 bus tunggal dan 8 bus gandeng, rencananya tahun depan baru akan ada penambahan lagi.
Sementara itu, karena bus TransJ hanya beroperasi hingga pukul 22.00 WIB dan sejumlah trayek bus reguler telah dicabut, omprengan di sepanjang jalur yang bersinggungan dengan koridor busway mulai menjamur. Omprengan berplat hitam tersebut antara lain terlihat di Daan Mogot, Slipi, dan di depan Universitas Atma Jaya Jakarta.
(vit/nrl)











































