"Saya yakin, kalau betul-betul dilakukan (reshuffle) maka akan digunakan momentum untuk meraih simpati dengan memposisikan diri merasa teraniaya, merasa terzolimi dan terkesan melow," ujar Wakil Ketua DPR, Pramono Anung dalam diskusi 'Menimbang Efektifitas Pemerintahan di Kantor Akbar Tandjung Institute, Jl Pancoran Indah Jakarta Selatan, Kamis (3/03/11).
Dengan citra teraniaya, menurut Pram, maka akan menimbulkan simpati dari publik. Hal tersebut dapat dicontohkan dari kemenangan SBY pada pemilihan presiden 2004 serta apa yang terjadi dengan Nurdin Halid saat menangis di DPR kemarin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hingga saat ini memang sudah bermunculan nama-nama calon presiden. Namun, menurut Pram, untuk pilpres 2014 belum ada kandidat kuat seperti Pilpres sebelumnya.
"2014 belum belum ada calon-calon yang promising, belum ada calon-calon kuat, seperti di tahun 1999 ada Gus Dur dan Ibu Mega dan di 2004 ada Pak SBY dan Ibu Mega. Sementara untuk 2014 belum ada calon yang dielu-elukan. Peta 2014 itu masih menjadi kertas putih yang terbuka bagi siapa pun," imbuh alumnus ITB ini.
(adi/mok)











































