Sampai Kapan pun Mega Diprediksi Takkan Gabung Koalisi

Sampai Kapan pun Mega Diprediksi Takkan Gabung Koalisi

- detikNews
Kamis, 03 Mar 2011 17:51 WIB
Sampai Kapan pun Mega Diprediksi Takkan Gabung Koalisi
Jakarta - Sampai kapan pun, Megawati Soekarnoputri tidak akan pernah menerima lamaran Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk masuk ke dalam koalisi. Sikap Mega itu menunjukkan suatu konsistensi dan tidak bisa disalahkan.

"Kalau sampai berubah haluan, harga demokrasinya terlalu mahal. Ini juga akan merepotkan PDIP sendiri karena nanti dukungan publik untuk PDIP akan melorot jika kepercayaan terhadap pemerintah merosot," kata pengamat politik Burhanuddin Muhtadi.

Hal itu disampaikan pria juga menjadi Manager Public Affairs Lembaga Survei Indonesia (LSI) saat berbincang dengan detikcom, Kamis (3/3/2011). Menurut Burhanuddin, sikap Mega tersebut sebagai bentuk aspirasi akar rumput kader PDIP.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Keputusan untuk menjadi oposisi itu keputusan kongres, yang merupakan keputusan tertinggi di partai," kata Burhanuddin.

Burhanuddin mengakui, godaan menjadi partai oposisi memang luar biasa besar. Apalagi, dengan menjadi oposisi, insentif finansial dari pemerintah tentu tidak bisa diperoleh. Padahal sebagai partai, PDIP membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk menggerakkan roda parpol.

"Tadi saya kira sangat sulit membuat Mega berubah haluan. Butuh kerja keras karena sejak dulu SBY sudah mencoba meminang tapi selalu bertepuk sebelah tangan. Walaupun Taufiq Kiemas lebih akomodatif, tapi otaknya tetap ada di Mega. Sulit," kata Burhanuddin.

Komentar senada juga disampaikan pengamat politik Alfan Alfian. Menurutnya, tidak akan mudah membuat Mega beringsut dari keputusan kongres yang menyatakan PDIP menjadi oposisi. Sikap Mega tersebut layak diacungi jempol dalam konteks demokrasi.

"Tidak bisa dianalisis apakah dia itu membatasi kader PDIP karena untuk jadi pemimpin
tidak harus di pemerintahan. Jadi kalau alasannya kemudian menghambat saya kira tidak," kata Direktur Akbar Tandjung Institute itu.

(ken/nrl)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini