Acara tersebut diselenggarakan Federasi Olah Raga Rekreasi Masyarakat Indonesia (FORMI). Perhimpunan olah raga non-prestasi ini diketuai oleh mantan Menteri Pemuda dan Olah Raga Hayono Isman.
Hayono beserta sejumlah pengurus FORMI menemui Wakil Presiden Boediono di Kantor Wapres, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (3/3/2011). FORMI bermaksud mengundang Wapres untuk membuka acara Pekan Kebugaran tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Hayono, Pekan Kebugaran dilatarbelakangi oleh rendahnya tingkat kesehatan masyarakat. Hal itu ditunjukkan makin banyaknya penduduk yang mengidap penyakit tidak menular namun mematikan seperti jantung, stroke, diabetes, dan lain-lain.
"FORMI berpendapat penyakit-penyakit itu harus dicegah, karena berpengaruh terhadap produktivitas nasional dan pembangunan bangsa yang memerlukan masyarakat yang sehat. Tidak ada gunanya kalau anak- anak kita pintar, namun badannya tidak sehat," lanjut Hayono.
Hayono mengatakan, semua masyarakat boleh ikut dalam acara ini. Pekan Kebubaran ditujukan untuk kalangan masyarakat yang berusia antara 7-60 tahun. Pertamakali, acara tersebut digelar di Jakarta, namun diharapkan berkembang ke seluruh wilayah di Indonesia.
Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Sekjen FORMI Iskandar Zulkarnaen mengatakan, ada beberapa jenis tes yang akan dilakukan pada Pekan Kebugaran. Pertama, adalah tes untuk mengukur kesehatan jantung dan paru-paru. Untuk anak-anak, mereka diminta lebih dulu berlari sejauh 1,6 KM, sedangkan orang dewasa 2,4 KM.
"Apabila tidak bisa berlari, maka disediakan tes step, yaitu dengan bangku tes yang kita buat sendiri setinggi 30 cm. Ini bisa dilakukan di dalam ruangan," jelas Zulkarnaen.
Tes yang kedua, lanjutnya, adalah mengukur kebugaran otot rangka dengan meminta peserta melakukan push-up dan sit-up. Kedua jenis peragaan olah raga itu juga bisa digunakan untuk melihat fleksibilitas atau kelenturan otot.
Ketiga, adalah pengukuran massa tubuh dengan melihat tinggi dan berat badan. Dengan memakai rumus tertentu, melalui metode tersebut dapat diketahui apakah seseorang menderita obesitas, normal- proporsional atau kurus.
"Satu lagi adalah kita mengetahui lingkar perut, yang menjadi salah satu indikator risiko penyakit tidak menular terutama untuk penyakit jantung. Jadi kalau lebih dari 108 itu sudah indikasi jantung koroner," tandasnya.
Bagaimana, tertarik?
(irw/anw)











































