"Kalau 'sinyal' dari kubu PDIP kuat, maka itu akan buat daya tekan kepada Golkar dan PKS semakin kuat," kata pengamat politik dari UGM, Ari Sudjito, saat dihubungi detikcom, Kamis (3/3/2011).
Seperti diketahui, Selasa 1 Maret lalu, Hatta yang merupakan Ketua Umum PAN dan Menko Perekonomian datang ke kediaman Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Namun Hatta tidak bertemu Megawati. Dia hanya bertemua Taufiq dan Puan, suami dan putri Megawati yang juga pengurus DPP PDIP.
Ari mengatakan, tidak mungkin SBY memutus koalisi sebelum ada jaminan PDIP mau bergabung. Untuk pendekatan ke kubu oposisi, SBY juga diyakini sudah mendekati Partai Gerindra yang belakangan sejalan dengan Partai Demokrat dengan menolak hak angket pajak.
"Jadi main duka kaki. Nggak mungkin mutus koalisi sebelum aman," kata Ari.
Mengenai peluang PDIP masuk koalisi, Ari menilai, hal itu sangat bergantung pada keputusan Megawati sebagai ketua umum partai. Namun seandainya koalisi terbentuk, hal itu pun hanya menjadi koalisi semu karena tidak mengikat dengan struktur partai. PDIP sebelumnya hanya merelakan simpatisannya untuk bergabung dengan kabinet.
"Jadi semua itu targetnya pragmatis, partai juga butuh resources dengan menempatkan orang-orangnya di kabinet," kata Ari.
(lrn/ahy)











































