PPP: Kunci Reshuffle Ada di Megawati

PPP: Kunci Reshuffle Ada di Megawati

- detikNews
Rabu, 02 Mar 2011 20:23 WIB
Jakarta - Pertemuan Hatta Rajasa dan Taufiq Kiemas menunjukkan sinyal ajakan masuk kabinet yang kesekian kalinya kepada PDI Perjuangan. Dikaitkan dengan pernyataan Presiden SBY kemarin, meskipun 'bau' reshuffle sudah semakin menyengat, kepastian ada tidaknya reshuffle sangat bergantung pada PDIP.

"Khususnya bergantung Megawati (Soekarnoputri-Ketum PDIP)," kata Wasekjen PPP, M Romahurmuziy, lewat pernyataan tertulis kepada detikcom, Selasa (2/3/2011).

Namun, Romi, sapaan akrabnya, melanjutkan sayangnya 'cinta' sementara ini masih agak bertepuk sebelah tangan. Dia menduga, Megawati memberi 3 syarat yang masih sulit diterima. Pertama, anggota kabinet cukup simpatisan PDIP.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bilamana elite pengurus PDIP yang diminta, yang bersangkutan tetap harus menanggalkan jabatannya di kepengurusan," kata Romi.

Kedua, kata Romi, PDIP tetap tidak bergabung ke dalam Setgab. Dua syarat ini adalah konsekuensi dari keputusan kongres yang menugaskan PDIP tetap sebagai partai penyeimbang.

"Syarat ketiga, permintaan disampaikan langsung oleh SBY kepada Mega," ujarnya.

Romi mengatakan, ketiga syarat tersebut menjadikan komposisi Setgab masih status quo. Sederhananya, kata Romi, sikap Partai Demokrat yang berkali-kali mendorong Partai Golkar dan PKS diletakkan di luar kabinet, hanya akan sepadan jika ditukar dengan masuknya PDIP dan Gerindra.

"Jika yang dua terakhir ini belum pasti, menerima saran PD sepenuhnya dengan mengeluarkan PG-PKS adalah sangat berisiko pada stabilitas politik," ujarnya.

Romi menilai idealitas yang diharapkan SBY, dengan nama kabinetnya 'Indonesia Bersatu', tentu semua fraksi masuk di dalamnya denga menjunjung kebersamaan dalam mengawal setiap kebijakan.

"Namun karena bukan situasi ideal, hitungan politiknya pakai matematika sederhana saja, 6 - 2 + 2 = 6. Jika keluar 2, masuk 2. Jika keluar 1, masuk 1," ujarnya.

Namun mengingat potensi resiko meletakkan Golkar di luar kabinet, kata Romi, perlu pertimbangan yang masak untuk melangkah lebih jauh.

"Inilah yang tercermin dengan kalimat Presiden kemarin 'satu-dua parpol langgar kesepakatan koalisi," kata dia.

"Kalau memang firm 2 parpol, tentu kalimatnya menjadi 'dua parpol langgar kesepakatan koalisi'. Tapi dengan frasa 'satu-dua' itu, dugaan saya SBY masih menimbang posisi Golkar. Selanjutnya, kalimat 'langgar kesepakatan koalisi', berartiย  betapapun dibantah oleh parpol 'satu-dua' ini, evaluasi SBY sudah final. Kunci selanjutnya, tinggal menunggu kesediaan PDIP," ujarnya.


(lrn/ndr)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads