Para pemimpin demonstran telah menggelar pertemuan di markas mereka di Benghazi pada Selasa, 1 Maret untuk membahas langkah selanjutnya. Menurut sumber, koalisi oposisi saat ini cenderung mengharapkan serangan udara asing terhadap target-target strategis, yang kemungkinan berdasarkan mandat PBB.
"Ini hal yang disetujui para pengelola dalam pertemuan itu," ujar sumber yang tak ingin disebutkan namanya mengingat sensitifnya isu ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Antara pasukan kami dan pasukan Khadafi tidak seimbang," ujar Bughaighi. Wanita Libya itu mencetuskan, krisis yang berlangsung di Libya membuat sebagian warga mengharapkan solusi internasional.
"Ada krisis, emosi yang campur-aduk antara keputusasaan dan harapan akan solusi internasional," tutur Bughaighi seperti dilansir media Press TV, Rabu (2/3/2011).
Menurut sumber lainnya, banyak warga Libya yang mendukung intervensi asing tersebut. "Namun rakyat tidak menginginkan adanya Irak atau Afghanistan berikutnya," ujar sumber tersebut.
Salah seorang warga Libya, Muftah Quwaidir mengatakan, rakyat butuh bantuan negara asing untuk melawan Khadafi.
"Amerika Serikat mengembalikan demokrasi di Haiti dan mereka mengintervensi di Kosovo," ujar Quwaidir, ayah dari pemuda berumur 26 tahun yang tewas ditembak pasukan Khadafi saat aksi demo beberapa hari lalu.
"Kami punya kemauan untuk melawan Khadafi, namun dia lebih kuat daripada kita," cetusnya.
(ita/nrl)











































