"Dalam pidatonya yang terlihat justru SBY seperti sedang menutupi kegalauan hati. Dengan memperlihatkan mentalitas seperti itu Presiden seperti menikmati permainan politik yang terjadi dan menikmati resikonya," ujar pengamat politik UI Rocky Gerung saat berbincang dengan detikcom, Rabu (2/3/2011).
Dia mengaku heran mengapa SBY terkesan ragu sehingga tidak sampai menyebutkan nama partai yang melanggar kesepakatan itu. Lebih disayangkan lagi, SBY dalam pidatonya tampil dengan bahasa tubuh yang dramatis dengan mengatakan masalah koalisi telah meresahkan publik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sikap ini kan, ibarat koboi mau menarik pistol eh malah yang ketarik cuma gagangnya," kelarnya.
Sebegai pemimpin pemerintahan, SBY harusnya bisa bersikap lebih tegas. SBY tidak perlu menunjukkan sikap bak seorang ayah yang tidak ingin melukai hati anaknya.
"Harusnya beliau sebut nama dan keluarkan partai yang dimaksud, atau politisi mana, biar orang gak menduga-duga. Tidak perlu menjadi bapak yang bersikap manis untuk merangkul anaknya yang nakal. Karena dalam politik kalau yang nakal tidak dihukum ya pastinya akan berulang terus," tegasnya.
(lia/mad)











































