Warga Bubarkan Kemah Meresahkan di Tawangmangu
Senin, 24 Mei 2004 06:20 WIB
Karanganyar - Dianggap meresahkan karena dianggap melakukan pelatihan kemiliteran, kemah yang dilakukan 35 pemuda dibubarkan oleh masyarakat di Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. Peserta kemah itu berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Senin dinihari mereka dipaksa untuk merobohkan tenda dan meninggalkan lokasi.35 orang ini melakukan kegiatan di bumi perkemahan Sekipan Blok 8, Kalisoro, Tawangmangu. Mereka mendirikan tiga tenda di lokasi paling terpencil dan paling atas. Dalam spanduk yang dipasang tertulis bahwa kegiatan itu dimaksudkan sebagai latihan dasar kepemimpinan yang diadakan oleh Generasi Islam Pencinta Alam.Namun kegiatan yang mereka lakukan sejak Kamis (20/5/2005) sore itu dinilai warga sekitar cukup meresahkan karenan dinilai melakukan pelatihan semi kemiliteran. Akhirnya Senin (24/5/2005) dinihari, pihak Muspika Tawangmangu dipimpin camat Drajad Mahendratama menemui pimpinan rombongan untuk segera meninggalkan lokasi untuk menghindari kemungkinan buruk akibat reaksi warga.Setelah dilakukan pembicaraan, akhirnya peserta kemah bersedia pulang, sedangkan angkutan untuk turun dari lereng Gunung Lawu itu disediakan oleh pihak Muspika. Dinihari itu juga semua peserta mengemasi tenda, peralatan latihan dan barang-barangnya bawaan untuk pulang.Pimpinan rombongan Djarot Supriyanto kepada wartawan membantah jika kegiatannya itu sebagai kegiatan kemiliteran. Dia mengatakan itu hanya kegiatan pecinta alam dan kegiatan latihan baris-berbaris seperti halnya pramuka. "Kami sering melakukan naik gunung, kali ini kami ingin kemah di sini. Itu saja, tidak ada tujuan lain," kata Djarot.Dia juga mengaku organisasinya beralamat di Jalan Gedong Kuning No 33 Gang Arjuna dan Abimanyu, Yogyakarta. Menurutnya organisasi tersebut tidak memiliki hubungan dengan ormas manapun. "Memang ada teman-teman yang bergabung pada ormas-ormas, tapi mereka ini datang kesini sebagai pribadi atau aktivis masjidnya masing-masing," ujarnya.Diakuinya kegiatan itu tanpa meminta ijin dari Polsek Tawangamangu dan hanya mecatatkan kegiatan itu pada pihak Perhutani yang mengelola lokasi perkemahan. Dalam buku tamu pihak Perhutani hanya nama Djarot tercatat dan sebagai warga Kebapangan 06/I, Alian, Kebumen. Sedangkan peserta kemah tercatat hanya 30 orang, meskipun kenyataannya diikuti 35 orang.Beberapa saat sebelum pulang nama-nama seluruh peserta dicatat sesuai KTP yang dimiliki. Ternyata mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Ada yang berasal dari Purwakarta, Purworejo, Bandung, Lombok Timur, Karanganyar, Sukoharjo, Kendal, Pemalang, Yogyakarta, Jakarta Selatan, dan daerah-daerah lainnya di Indonesia.Bahkan terdapat pula seorang peserta bernama Lasmana Ibrahim yang beralamat di Cileunyi, Bandung, yang mengaku sebagai pensiunan TNI AL berpangkat terakhir mayor. Dia satu-satunya peserta kemah yang usianya sudah tua, sisanya adalah anak-anak muda berusia antara 20 hingga 30 tahun.Menurut sejumlah warga dan pihak perhutani yang sempat melihat, kegiatan mereka diantaranya latihan baris-berbaris, luncur tambang, latihan tongkat, lintas alam dan lain-lainnya. "Saya pernah melihat mereka latihan penggunaan senjata. Instrukturnya yang tua itu. Dia memegang senapan angin, sedangkan pesertanya memperagakan dengan tongkat," kata seorang petugas Perhutani.Lasmana mengatakan bahwa yang terjadi hanyalah salah persepsi meskipun dia mengakui bahwa pihaknya menyalahi prosedur karena tidak melapor ke Polsek Tawangmangu sebelum melakukan kegiatan. Rencananya mereka akan pulang Minggu sore, karena terjadi hujan kemudian diputuskan akan pulang Senin pagi, namun keburu diminta bubar oleh masyarakat.Tentang latihan yang dilakukan, dia mengaku hanya latihan kedisiplinan biasa. "Hanya latihan baris-berbaris. Menurut kami untuk menjadi pemimpin yang baik, harus disiplin dan paham betul dengan aturan baris-berbaris. Kami tidak ada maksud lain," kata dia.Selanjutnya sekitar pukul 02.30 WIB, mereka turun menggunakan tiga mobil dalam pengawalan ketat polisi dan pihak muspika Tawangmangu. Namun mereka tidak langsung pulang. Mereka meminta menginap dulu di Pesantren Isykarima, Karangpandan. "Besok kami akan pulang ke daerah masing-masing. Pagi ini masih lelah, kami akan istirahat dulu di Isykarima," kata Djarot.
(mel/)











































