Suara Pendukung Gus Dur Akan Lari ke Mega Atau Wiranto
Minggu, 23 Mei 2004 11:51 WIB
Jakarta - Suara dari pendukung yang bingung setelah Gus Dur gagal menjadi calon presiden mungkin akan lari ke Mega-Hasyim atau Wiranto-Gus Solah. Tetapi, tergantung komando cucu pendiri NU itu."Pastinya akan lari ke antara Mega-Hasyim atau Wiranto-Gus Solah. Ini karena yang satu adiknya Gus Dur dan satunya orang NU," tandas Prof Budyatna, pengamat politik asal universitas Indonesia yang dihubungi detikcom, Minggu (23/5/2004). Hanya saja, suara NU tidak akan begitu saja mengalir karena bisa jadi ada kemungkinan Gus Dur mengempiskannya. Menurut Budyatna, sikap sakit hati Gus Dur terhadap Megawati bisa menimbulkan kemungkinan upaya Gus Dur untuk mengempiskan dukungan pada Mega.Mantan dekan Fisip UI itu menepis kemungkinan suara NU akan lari ke Hamzah Haz yang juga tokoh NU. "Hamzah itu kecil, Hamzah itu nggak ada apa-apanya," tandas Budyatna. Di sisi lain, Budyatna melihat keputusan KPU yang menggagalkannya menjadi presiden adalah berkah tersendiri bagi Gus Dur. Gus Dur belum berarti kalah. Keputusan itu malah bisa menjadi bahan tawar bagi PKB terhadap sejumlah kursi kabinet."Gus Dur tidak mungkin nggak memanfaatkan situasi ini. Dia itu orang cerdik. Dia bisa kempiskan dukungan terhadap calon presiden lain atau dia bisa minta kompensasi jabatan posisi strategis atas dukungan yang diberikan," kata Budyatna. "Dia ini punya darah biru di NU, dia orang yang sangat dihormati apalagi masa NU puluhan juta. Dia bukannya kalah dalam bertarung politik, dia akan memanfaatkan," imbuhnya.Dengan posisi calon presiden yang tinggal lima orang, Budyatna memperkirakan akan ada tiga calon yang bersaing ketat pada pemilu presiden putaran pertama nanti. Mereka akan berebut menjadi dua yang teratas untuk bertarung di putaran kedua. Tiga pasangan itu adalah Mega-Hasyim, Wiranto-Gus Solah dan Susilo Bambang Yudhoyono-Yusuf Kalla. Amien Rais-Siswono? "Kalau Amien Rais peluangnya kecil. Amien Rais kredibilitasnya sudah menurun. Dia dulu mengangkat Gus Dur menjegal Mega, mengangkat Mega menjegal Gus Dur. Orang melihatnya petualang. Apalagi didampingi oleh Siswono. Siswono ini kan petani berdasi, dia mengaku ketua HKTI tetapi tidak pernah membela kepentingan petani," papar Budyatna.
(tis/)











































