Senin, Gus Dur Ajukan Gugatan ke Pengadilan
Sabtu, 22 Mei 2004 21:10 WIB
Jakarta - Ancaman Gus Dur untuk menggugat Komisi Pemilihan Umum (KPU) tak main-main. Senin, gugatan terhadap KPU terkait tidak diloloskannya capres Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu akan didaftarkan ke pengadilan."Besok siang (Minggu) kami akan rapat di DPP PKB. Senin gugatan itu akan didaftarkan oleh pengacara saya ke pengadilan. Saya akan meminta hukuman pidana maksimal untuk pelanggaran kedua UU tersebut, yakni masing-masing lima tahun. Atau kalau kena separo ya masing-masing 2,5 tahun," papar Gus Dur di Solo, Jawa Tengah, Sabtu (22/5/2004).Dijelaskan Gus Dur, materi gugatannya kepada KPU adalah pelanggaran yang dilakukan KPU terhadap UU No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan dan UU No. 4 tahun 1997 tentang disabilitas. Selain itu, gugatan perdata Rp 1 triliun sebagai rehabilitasi namanya yang dianggap tidak cakap.Apakah tidak runyam jika proses pilpres berjalan lalu gugatannya dimenangkan pengadilan? "Bukan hanya itu saja runyamnya. Panwaslu belum tentu sama dengan KPU. Aturannya, Panwaslu bisa mengambil keputusan mengikat tetapi KPU tidak akan nurut. Apa tidak runyam. Sekali dia (KPU) curang maka soal kecil-lah yang lain-lain. Istilahnya sudah kepalang basah," tegasnya.Ketua Dewan Syuro PKB ini juga menilai keputusan KPU menunjukkan KPU masih bisa ditekan oleh kelompok pendukung status quo. Oleh karena itu, ia pun memutuskan menjadi golput. "Kelompok status quo telah berhasil menekan KPU untuk menjegal saya. Karena itulah saya memutuskan untuk menjadi golput dan berada di luar sistem. Selain itu, saya juga akan menggugat KPU ke pengadilan," tegas Gus Dur.Alasan menjadi golput, menurut Gus Dur, untuk menghindari terjadinya kekerasan. Ia juga mempersilakan jika PKB akan mendukung calon lain, namun dia yakin massa akan lebih banyak mengikuti langkahnya. "Tidak apa-apa kalau PKB begitu (mendukung capres lain), tapi pendukung tidak akan ikut. Saya tahu itu," tukasnya yakin.Mengenai keputusannya berada di luar sistem adalah akan terus berjuang menegakkan demokrasi. "Perjuangan menuju demokratisasi ke depan akan lebih sulit, tetapi saya akan tetap berjuang dari pada di dalam tidak ada demokrasi. Orang-orang tidak akan membiarkan saya sendirian. Di Semarang tadi anak-anak yang mogok makan itu saya larang, mereka menangis," katanya.
(ani/)











































