Seperti dilansir dari Reuters, Minggu (27/2/2011), tim penyelamat Selandia Baru yang dibantu tujuh negara, termasuk Amerika Serikat, Cina, Jepang, dan Australia terus melakukan pencarian korban diantara reruntuhan bangunan. Namun sebagaian besar penyelamat hanya mampu menemukan mayat setelah kota itu dihantam gempa berkekuatan 6.3 SR Selasa (22/2) lalu.
Hingga saat ini gempa tersebut telah menyebabkan 147 korban tewas. Mereka yang tewas termasuk dari 20 negara, seperti Jepang, Cina dan Taiwan. Mereka yang tewas dari negara-negara tersebut sebagian besar adalah pelajar dan mahasiswa yang berada di Christchurch, salah satu kota favorit di Selandia Baru untuk belajar bahasa Inggris.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Aku tidak akan berhenti berharap bahwa kita akan menemukan orang-orang hidup dalam reruntuhan kota yang rusak ini. Sampai kemudian saya diberitahu bahwa optimisme tersebut sudah tidak mungkin ada lagi," kata Bob Parker wartawan.
Sejak Rabu (23/2) para penyelamat sudah tidak lagi menemukan korban dalam kondisi hidup. Pencarian korban gempa difokuskan di beberapa titik seperti di sekitar area perusahaan keuangan, katedral, gedung televisi lokal dan sekolah. Tim dari Jepang, Cina dan Inggris bergabung dengan penduduk setempat untuk memisahkan bangunan untuk mencari para korban yang tertimbun reruntuhan bangunan. (her/mei)










































