"Tidak perlu ambil langkah boikot yang akhirnya menimbulkan perkara. Ini kan tergantung sikap Presiden menyikapi media," ujar mantan Menkum Yusril Ihza Mahendra usai mengikuti zikir akbar di Monas, Jakarta Pusat, Minggu (27/2/2011).
Menurut Yusril,pemerintah salah dalam membentuk opini. Dituturkannya, tidak ada sumber pemberitaan dari pemerintah yang layak muat yang dapat menarik perhatian publik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seharusnya langkah Presiden bagaimana? "Presiden sampai sejauh ini belum ambil sikap apa-apa. Jangan-jangan dia nyuruh juga," ucap Yusril sambil terseyumย dan berlalu.
Pekan lalu Dipo Alam mengkritik pola pemberitaan media massa yang sering menimbulkan salah paham masyarakat terhadap pemerintah. Saking geramnya Dipo meminta media massa yang tak netral untuk diboikot.
"Ada koran dan televisi yang setiap menit dan jam memberitakan soal keburukan, sampai gambarnya diulang-ulang setiap hari lalu menyebut pemerintah gagal sehingga terjadi misleading di masyarakat. Itu kan salah, boikot saja," kata Dipo di sela-sela jeda rapat pematangan rencana induk percepatan dan pembangunan ekonomi 2025 di Istana Bogor, Senin (21/2) silam.
Sehari kemudian, Dipo merinci media mana saja itu. "Metro TV sama TV One. Saya lihat itu waktu saya di Kupang. (Media) Cetaknya yang sesuai dengan yang punyanya TV juga, ha ha ha ha," ujar eks aktivis mahasiswa UI yang bergelar doktor ini.
(vit/nrl)











































