Kisah Perjuangan WNI Mengungsi dari Libya

Kisah Perjuangan WNI Mengungsi dari Libya

- detikNews
Minggu, 27 Feb 2011 18:00 WIB
Kisah Perjuangan WNI Mengungsi dari Libya
Tunis - Mengungsi dari Libya bukan perkara mudah. Bersama ratusan WNI lainnya, Kusworo Nursidik, seorang mahasiswa di Libya, harus berdesak-desakan di Bandara Tripoli yang sangat padat.

Berikut ini kisah Kusworo lewat surat elektronik kepada detikcom, Minggu (27/2/2011):

Pada Hari Jumat pagi pukul 7, kami menuju bandara. Bersama 203 karyawan Wika, masyarakat Indonesia, 18 mahasiswa (total 253 WNI). Kami berdesakan dengan ribuan orang di bandara. Bandara penuh sesak sampai halaman dan taman-taman terbuka di luar bandara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tentara mengatur para warga asing, dengan cara-cara kasar, dengan pentungan dan letusan-letusan peluru kosong terutama kepada orang-orang Mesir. Alhamdulillah, kami WNI tidak diperlakukan secara kasar, hanya saja kami harus berjuang berdesak-desakan dengan ribuan orang, dari Jumat pukul 10 pagi hingga pukul 18 malam kami baru bisa check in.

Setelah itu kami menunggu di ruang tunggu sampai hari Sabtu berikutnya pukul 18.00, karena pesawat carteran Tunisia belum mendarat. Sabtu pukul 18.00 kami disuruh boarding, dan proses boarding pun berdesak-desakan hanya melewati satu pintu.

Kami pun harus menunggu lagi di ruang boarding hampir 4 jam, karena menurut info dari pihak Tunisair, pesawat lagi diperbaiki beberapa error teknikal. Pukul 24, hari Ahad akhirnya kami take off, setelah hampir 40 jam kami di bandara bersama desakan ribuan orang.

Ribuan orang asing eksodus besar-besaran: Mesir, Al-jazair, Turki, Maroko, China, Syria, Afrika, Kanada, sebagian Erpoa, dll. Diperkirakan orang yang antre di bandara puluhan ribu dengan kondisi bandara yang sangat sempit dan logistik sangat terbatas.

Alhamdulillah setelah satu jam di udara kami mendarat di bandara Tunis, ibukota Tunisia. Kami pun disambut tim evakuasi pemerintah RI yang dipimpin Bapak Temu Alam bersama rombongan KBRI Tunis dan tim evakusi dari PT Wijaya Karya.

Kami pun dijamu di Wisma KBRI Tunis oleh Bapak Dubes RI untuk Tunisia. Mahasiswa tinggal di KBRI Tunis, dan WNI lainnya di penginapan-penginapan lain yang telah disiapkan oleh tim evakuasi.

Info sementara kami akan tinggal di Tunis selama 3 minggu, setelah itu akan dibicarakan evakuasi selanjutnya dan kelanjutan pendidikan bersama KBRI Tunis, tim evakuasi pemerintah RI.

Kami sangat mendapatkan pelayanan yang nyaman dari KBRI Tunis : baik logistik maupun tempat tinggal juga pelayanan yang ramah lainnya. Terima kasih kepada KBRI Tunis, tim evakuasi pemerintah RI, tim evakuasi PT Wijaya Karya, dan seluruh pihak yang membantu kami.

Tetapi sebagian besar dari mahasiswa tidak membawa apa-apa, karena kami hanya diminta membawa barang maksimal 7 kg. Tapi sesampai di bandara Tripoli, HP, laptop, hardisk tidak boleh keluar Tripoli atau akan diambil oleh petugas bandara. Akhirnya laptop, HP dan elektronik lainnya kami titipkan di KBRI Tripoli.

Kami hanya bisa berharap:
Pemerintah RI bisa membantu kami agar bisa melanjutkan pendidikan  lagi kalau nanti Libya aman berupa komunikasi dengan pihak kampus Libya, juga pembiayaan kembali ke Libya. Atau kalau seandainya tidak mungkin ke Libya karena kondisi keamanan,  agar kami bisa diberi beasiswa untuk melanjutkan pendidikan kami sesuai jurusan kami.

Tapi saya berharap kondisi nanti kondusif untuk menyelesaikan pendidikan saya di Libya yang tinggal satu semester di Kulyah Da'wah Islmaiyah jurusan Al Qur'an wa'ulumihi (syariah), saya sudah 5 tahun di Libya sejak Desember 2005.

Itu info dari saya, maaf tidak sempat menulis dengan redaksi yang bagus, karena ini antre internet di KBRI Tunis.

Tunis, Ahad 27/2 pukul 11.06

(nrl/nvt)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads