"Sekarang terus dilakukan pemantauan, tidak ada penambahan kasus baru," kata Dirjen P2PL Kemenkes RI, Prof dr Tjandra Yoga Aditama, melalui surat elektronik, Minggu (27/2/2011).
Berdasar temuan tim di lapangan, kronologi penyebaran wabah dimulai dari adanya seekor sapi yang sakit pada akhir Januari 2011. Oleh pemiliknya sapi tersebut dipotong untuk dikonsumsi sendiri dagingnya dan sebagian lagi dijual ke pasar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sembilan orang penderita keropeng di kulit itu lantas mendapatkan pengobatan. Sebagian dari mereka kondisinya membaik, tetapi sebagian lagi dirujuk ke RS Moewardi untuk evaluasi lebih lanjut. Contoh jaringan juga telah diperiksa, namun sejauh ini belum disampaikan hasilnya.
Beberapa hari lalu ada 1 kasus tambahan di dusun sama, juga dengan keropeng di kulit. Untuk mencegah penyebaran lebih luas, kepada warga setempat telah diberikan penyuluhan untuk kesehatan lingkungan dan pentingnya mencuci tangan.
"Dinas Peternakan setempat melakukan penanggulangan pada ternak berupa tes serologi, desinfeksi pada kandang dan lingkungan, pengobatan dan vaksinasi pada ternak," sambung Prof. Tjandra.
Dampak kesehatan yang ditimbulkan virus anthrax terhadap manusia tidak hanya berupa keropeng kulit yang berwarna hitam. Tapi juga bisa menyerang pencernaan yang menular melalui makanan dan paru-paru yang menular akibat menghirup udara mengadung spora virus.
"Masa inkubasinya masing-masing 1-5 hari," jelasnya.
(lh/lh)











































