Kemenkes Terus Pantau Wabah Anthrax di Boyolali

Kemenkes Terus Pantau Wabah Anthrax di Boyolali

- detikNews
Minggu, 27 Feb 2011 16:37 WIB
Boyolali - Kementerian Kesehatan RI dua pekan lalu mengirimkan tim ke Boyolali, Jawa Tengah, untuk memastikan dugaan penyebaran wabah anthrax di sana. Hingga kini dusun lokasi kejadian berada dalam pemantauan Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kemenkes RI.

"Sekarang terus dilakukan pemantauan, tidak ada penambahan kasus baru," kata Dirjen P2PL Kemenkes RI, Prof dr Tjandra Yoga Aditama, melalui surat elektronik, Minggu (27/2/2011).

Berdasar temuan tim di lapangan, kronologi penyebaran wabah dimulai dari adanya seekor sapi yang sakit pada akhir Januari 2011. Oleh pemiliknya sapi tersebut dipotong untuk dikonsumsi sendiri dagingnya dan sebagian lagi dijual ke pasar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Laporan pertama tentang dugaan penyebaran wabah anthrax datang dari seorang bidan. Di dalam laporan tertanggal 12 Februari 2011 itu disampaikan kasus-kasus dengan kelainan kulit tertentu. Tim menemukan ada 9 kasus dengan keropeng di kulit.

Sembilan orang penderita keropeng di kulit itu lantas mendapatkan pengobatan. Sebagian dari mereka kondisinya membaik, tetapi sebagian lagi dirujuk ke RS Moewardi untuk evaluasi lebih lanjut. Contoh jaringan juga telah diperiksa, namun sejauh ini belum disampaikan hasilnya.

Beberapa hari lalu ada 1 kasus tambahan di dusun sama, juga dengan keropeng di kulit. Untuk mencegah penyebaran lebih luas, kepada warga setempat telah diberikan penyuluhan untuk kesehatan lingkungan dan pentingnya mencuci tangan.

"Dinas Peternakan setempat melakukan penanggulangan pada ternak berupa tes serologi, desinfeksi pada kandang dan lingkungan, pengobatan dan vaksinasi pada ternak," sambung Prof. Tjandra.

Dampak kesehatan yang ditimbulkan virus anthrax terhadap manusia tidak hanya berupa keropeng kulit yang berwarna hitam. Tapi juga bisa menyerang pencernaan yang menular melalui makanan dan paru-paru yang menular akibat menghirup udara mengadung spora virus.

"Masa inkubasinya masing-masing 1-5 hari," jelasnya.


(lh/lh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads