"Saya pesan nasi ayam dan air putih saja," kata Oentarto kepada wartawan, Minggu
(27/2/2011).
Usai makan, pria berusia 70 tahun ini pun menceritakan kesehariannya selama di penjara. Melihat ada selokan cukup dalam di kompleks LP Cipinang, Oentarto berinisiatif membuat kolam lele. Ia pun segera meminta sipir untuk membelikannya bibit-bibit ikan berkumis itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai orang asal Yogyakarta, mantan Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri ini pun merindukan makanan khas Yogyakarta seperti gudeg dan bakmi 'Mbah Mo'. "Saya kangen gudeg dan bakmi Mbah Mo. Tapi saya sudah tua jadi harus sangat membatasi makanan yang masuk dalam perut saya," imbuhnya.
Oentarto pun menceritakan mengapa ia sampai membutuhkan kruk atau tongkat bantu
untuk berjalan. Ketika awal masuk penjara, ia mengalami kesulitan melangkah kaki
karena di sekeliling pintu masuk penjara tertutup besi hingga dasar dan ia tak
sempat melangkahkan kaki secara baik.
"Kan saya baru pertama kali masuk penjara dan tidak tahu ada besi di bawahnya, kena
kaki saya," ujarnya sambil tertawa. Tak hanya itu, menjadi pegawai kantoran selama berpuluh tahun membuatnya kurang beraktifitas sehingga ada pembengkakan di bagian
kakinya.
Kini setelah bebas bersyarat, pria berkacama mata ini diwajibkan sebulan sekali lapor ke KPK sampai masa hukuman 2/3 selesai. "Saya masih tinggal di Jakarta, barangkali Selasa depan saya mau ziarah ke makam orangtua saya," ucapnya.
(feb/vit)











































