Delegasi Indonesia terdiri dari Densus 88, Kehakiman, Kejaksaan, Kementerian Hukum dan HAM dibawah pimpinan Yunus Hussein, Kepala Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).
Nampak di antara anggota yang tiba di Washington DC Selasa 22 Februari 2011 lalu, Muhammad Yusuf (direktur hukum dan regulasi PPATK) dan DR Chairijah (direktur Hukum Internasional). Selama tiga hari, di Washington DC, para anggota delegasi ini sempat berkunjung ke Departemen Keuangan, Departemen Luar Negri, Imigrasi dan Bea Cukai, dan FBI.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami ingin melihat legislasi dan pengalaman AS yang terkait dengan pencegahan pendanaan terorisme dan perampasan aset," papar Yunus.
Keduanya terkait dengan tugas yang diembannya, baik sebagai ketua PPATK, juga sebagai ketua RUU Pendanaan Terorisme. Kunjungan delegasi ini sebagian besar didanai oleh pemerintah AS.
Ketika disinggung mengenai pernyataan Gayus tentang aktifitas intelijen AS terkait otak paspor aspal, John Jeron Grice, Yunus yakin hal itu tidak benar.
"Kalau memang namanya agen (FBI), pasti tidak akan menjawab. Masa percaya sama Gayus?," jelasnya.
Yunus Hussein yang sempat jadi Khotib Jum'at di KBRI Washington DC siang tadi, 25 February 2011, sempat menceritakan hasil kunjungan delegasinya ke FBI. Pertanyaan-pertanyaan seputar Hambali, tidak dijawab tuntas dan lugas. Bahkan banyak pertanyaan dari FBI ke delegasi, di antaranya mengenai tipologi terorisme di Indonesia.
Mengenai rekening Gayus yang semula diduga berada di empat negara (Singapura, Macau, Malaysia dan AS), sudah diperoleh jawaban pasti. "Malaysia, Macau dan AS menyatakan tidak. Hanya satu negara tetangga (Singapura) kita yang belum menjawab, karena kurang lengkapnya dokumen," paparnya.
"Masalah terbesar yang dihadapi Kepolisian adalah mencari siapa wajib pajak yang menyuap Gayus hingga milyaran dolar," ungkap Yunus yang mantan warga Maryland sekitar dua puluh lima tahun yang lalu.
Acara berjalan santai dan akrab hingga sekitar jam 9 malam waktu setempat. Anggota delegasi akan melanjutkan perjalanan ke New York dan direncanakan akan bertemu dengan FBI dan Hakim Lewis. A.Kaplan, Senin 28 February 2011, sebelum bertolak kembali ke tanah air.
(eis/rdf)











































