"Pengamanan yang paling kita intensifkan saat malam pengerupukan. Di mana saat itu masing-masing banjar akan mengarak ogoh-ogoh," kata Kabid Humas Polda Bali, Kombes Gde Sugianyar Dwi Putra di Mapolda Bali, Jl Wr Supratman, Denpasar, Sabtu (26/02/2011).
Menurutnya, kerawanan terjadinya gesekan antarwarga akan semakin berpotensi saat pengarak ogoh-ogoh melintasi daerah perbatasan desa dan saat saling bertemu di jalan. Apalagi, warga kebanyakan minum-minuman keras (miras) sebelum ogoh-ogoh diarak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Polda Bali sifatnya memback-up saja ke setiap satwil (Satuan Wilayah) baik polsek maupun polres, karena nanti pengamanannya juga akan dikoordinasikan juga kepada petugas pecalang," imbuhnya.
Menurutnya, sejak awal bulan Februari, Polda Bali sudah melakukan operasi cipta kondisi yang merazia minuman keras, dan sanjata tajam. Hal itu dilakukan menyambut perayaan nyepi 5 Maret nanti.
"Kita sudah melakukan pendekatan persuasif dan dialogis kepada tokoh-tokoh masyarakat, pemuka adat dan agama. Selain itu juga terhadap pecalang sebagai unit keamanan di masing-masing desa," paparnya.
Dalam perayaan nyepi nanti, Kepolisian tidak bisa bebas melakukan patroli kecuali berkoordinasi dengan pihak adat dan pecalang setempat. Segala Aktivitas di Bali akan berhenti total mulai Sabtu (5/3) pukul 06.00 Wita sampai Minggu (6/3) pukul 06.00 Wita. Bagi wisatawan yang hendak berkunjung ke Bali diharapkan datang satu hari menjelang dan setelah perayaan Nyepi.
(gds/mok)











































