"Jadi kalau saya, ya kalau enggak dua-duanya dikeluarkan. Kalau pemerintah takut dua raksasa akan menjadi lawan di DPR, yaitu Golkar dan PDI Perjuangan, ya PKS di-out," ujar pengamat politik dari Universitas Indonesia, Arbi Sanit usai diskusi polemik Radio Trijaya 'Koalisi Pecah, Kabinet Terbelah' di Warung Daun, Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (26/2/2011).
"Karena PKS paling konsisten melawan, tidak ada ganda-ganda lagi," imbuhnya.
Arbi menilai, kepergian PKS dari koalisi akan bisa digantikan oleh Partai Gerindra yang sudah menunjukkan tanda-tanda untuk bergabung. Suara yang dimiliki oleh Gerindra dinilai akan mampu menggantikan suara PKS yang hilang.
"Kalau PKS enggak ada, kan ada gantinya kemasukan Gerindra. Itu sudah besar sekali," tuturnya.
Arbi memerhitungkan, jika Golkar dan PKS keluar dari koalisi, maka kubu Demokrat akan kehilangan 163 kursi. Sebab diketahui bahwa Golkar menyumbang 106 kursi dan PKS 57 kursi.
Dengan demikian, sisa suara yang dimiliki koalisi Demokrat tidak akan cukup untuk melawan partai oposisi. Namun jika hanya PKS yang dikeluarkan, maka suara Gerindra akan bisa menambah suara koalisi untuk mendominasi.
"Kalau Golkar di dalam, masuk Gerindra enggak ada bedanya, jumlah kursi di DPR enggak banyak beda, hanya beberapa buah," jelas Arbi.
Arbi menegaskan, jika memang Demokrat takut Golkar akan menjadi oposisi dengan PDIP maka langkah paling tepat adalah mengeluarkan PKS dari koalisi.
"Seperti yang saya katakan tadi. Kalau dia kuatir ada dua raksasa menjadi lawan di DPR, PDIP dan Golkar, maka yang dikeluarkan PKS saja, karena harga diri PKS lebih tinggi dari Golkar," tandasnya.
(nvc/mok)











































