Seperti dalam ulasan Allbusiness.com edisi 18 Juli 2005, Lafico bergerak di beragam lini bisnis. Sebut saja dari industri otomotif sampai perhotelan di sejumlah negara.
Lafico adalah pemilik 2% saham Fiat senilai US$ 112 juta atau sekitar Rp 1,008 triliun. Saham Lafico di Fiat malah sempat mencapai 15% sebelum Libya diembargo ekonomi oleh AS akibat pemboman di Lockerbie. Lafico juga memiliki saham 7,5 persen saham klub sepakbola Juventus.
Lafico juga merupakan pemain besar industri perhotelan di Eropa dan Timur Tengah. Lafico pada Maret 1992, membeli sepertiga saham jaringan Hotel Metropole senilai US$ 275 juta atau sekitar Rp 2,4 triliun. Pada Agustus 1996, saham ini dijual dua kali lipat pada nilai US$ 389 juta atau sekitar Rp 3,5 triliun.
Lafico saat ini memiliki 47% saham Corinthia Group, pemilik sejumlah hotel di kawasan Timur Tengah dan Eropa. Corinthia juga memberikan jasa konsultasi dan manajemen untuk bisnis perhotelan.
Lafico juga punya saham di Oilinvest, perusahan minyak Libya yang bergerak di bisnis pompa bensin di Mesir. Lafico juga menanam modal di Aljazair dan menunggu BUMN minyak Aljazair, Sonatrach dideregulasi, kemudian Lafico mengekspansi dengan SPBU-nya.
Khadafi juga berusaha menanamkan modal asing di benua Afrika dengan mendorong dibentuknya Uni Afrika untuk menggantikan Organisation of African Unity (OAU). Lafico pun pasang kuda-kuda lewat Libyan Arab African Investment Company (Laaico). Laaico menanam modal di berbagai sektor bisnis di benua Afrika termasuk perhotelan.
Nah, Lafico juga punya induk perusahaan yaitu Libyan Arab Foreign Bank (LAFB). LAFB bergerak di bisnis keuangan. LAFB memiliki 5% saham Banca di Roma, bank komersil besar di Italia. LAFB juga mendirikan Arab Banking Corp (ABC) bersama rekanan dari Kuwait dan Abu Dhabi. ABC menjadi bank internasional paling besar di Timur Tengah dengan jaringan di seluruh dunia.
(fay/nvt)











































