Seperti dilansir Guardian, dalam edisi Senin 21 Februari 2011, anak-anak Khadafi sangat menikmati uang dari hasil penjualan minyak. Namun mereka juga punya kerajaan bisnis masing-masing. Seperti diketahui, Khadafi miliki 8 anak dari dua kali pernikahan.
Putra pertama Khadafi adalah Muhammad Khadafi. Kepala Komite Olimpiade Libya ini menguasai 40% saham Libyan Beverage Company. Perusahaan ini adalah pemegang lisensi Coca-Cola di Libya. Muhammad juga pemilik General Post and Telecom Company, operator ponsel dan komunikasi satelit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saadi Khadafi adalah putra ketiga Muammar Khadafi. Sempat ingin menjadi pemain bola di Liga Italia Seri A namun karirnya jeblok. Dia kini menjadi ketua Libya Football Federation, PSSI-nya Libya. Untuk bisnisnya, dia memiliki usaha produksi film dengan nilai investasi US$ 100 juta atau sekitar Rp 900 miliar dan memegang saham signifikan klub sepakbola Libya, Al Ahli. Saadi juga punya tentara sendiri yang dengan curangnya dia pakai untuk mengamankan deal dengan rekan bisnis.
Anak keempat Khadafi, Muttassim Khadafi, sempat berbisnis pada 2001-2005 sebelum akhirnya diambil alih saudara-saudaranya. Pria yang pernah berniat mengkudeta ayah sendiri ini, kini menjadi Penasihat Keamanan Nasional Libya dan punya tentara di bawah kendalinya.
Di bawah Muttassim ada Hannibal Khadafi. Hannibal lebih dikenal sebagai anak bengal yang hidup berfoya-foya dan banyak tersangkut masalah hukum di benua Eropa. Sedangkan putra keenamnya adalah Saif al-Arab Khadafi juga tidak banyak tersorot media, selain hidup mewah sambil kuliah di Munich, Jerman. Saif terakhir malah disebut bergabung dengan demonstran anti Khadafi.
Putra ketujuh Khadafi, Khamis Khadafi, memilih karir di kepolisian dan moncer sebagai komandan Batalion 32 yang menghadapi para demonstran di Benghazi.
Nah, bisnis baru digeluti lagi oleh anak bungsu Khadafi, Ayesha Khadafi. Perempuan yang juga pengacara ini memiliki bisnis berupa klinik swasta di Tripoli. Klinik miliknya diakui mumpuni dalam memberikan layanan kesehatan yang tidak bisa diberikan fasilitas kesehatan umum lainnya.
(fay/nrl)











































