Jadikan Rakyat Barometer Reformasi

Jadikan Rakyat Barometer Reformasi

- detikNews
Jumat, 21 Mei 2004 10:25 WIB
Jakarta - Apa tolak ukur reformasi gagal atau berhasil? Yang jelas bukan dari rampungnya agenda reformasi. Tapi kondisi rakyat lah yang jadi barometernya."Tidak ada perubahan dalam melakukan reformasi. Memangnya apa yang sudah didapat oleh rakyat?" tukas Bona Ventura dari Aliansi Mei Bergerak yang dihubungi detikcom melalui telepon, Jumat (21/5/2004).Dia pun mengacu pada kasus tewasnya wartawan Bernas Udin, tewasnya buruh perempuan Marsinah, korban penggusuran, korban SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi), tragedi berdarah Trisakti, Semanggi I dan II."Semua kasus itu dan banyak lainnya yang menimpa rakyat kita, apa ada yang terungkap? Kan tidak ada. Kondisi kehidupan rakyat juga tidak bisa lebih baik," ujar Bona.Ditegaskan dia, mahasiswa tidak akan terjebak dengan dukung-mendukung capres dan cawapres yang semuanya meneriakkan reformasi. Mahasiswa akan fokus pada gagasan reformasi itu sendiri. Tapi dengan syarat, pemimpinnya harus lah berlatar sipil demokratis."Mau ganti presiden sampai seribu kali kek, kalau gagagan reformasi itu tidak pada tempatnya, ya tidak akan ada reformasi, tidak akan ada perubahan yang baik pada rakyat. Tolak ukurnya itu ya rakyat," tukas Bona.Enam tahun sudah usia gerakan reformasi yang tercetus pada 21 Mei 1998, bersamaan dengan lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan yang dinikmatinya selama 32 tahun.Enam agenda reformasi pun dicetuskan. Yakni adili Soeharto, berantas korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), amandemen UUD 1945, hapus dwifungsi ABRI, otonomi daerah seluas-luasnya, dan tegakkan supremasi hukum. (sss/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads