Seperti dilansir Bloomberg, edisi Rabu (25/2/2011), Khadafi menggelontorkan uang lewat BUMN Libya, Libyan Arab Foreign Investment Company (Lafico) untuk Juventus. Terhitung, sebanyak 7,5 persen saham Juventus dimiliki perusahaan yang dikontrol Khadafi ini dengan nilai US$ 17,5 juta atau sekitar Rp 157,5 miliar.
Hubungan Khadafi dengan klub berjuluk 'Nyonya Tua' ini pun menjadi mesra. Bahkan pada tahun 2002, lobi-lobi Khadafi juga membuat penyelenggaraan Piala Super Italia bisa digelar di Tripoli.
Coba tebak siapa yang bertanding? Tentu saja Juventus, klub yang disokong Khadafi. Sekitar 40 ribu penonton di Stadion 11 Juni menyaksikan dua gol Alesandro Del Piero membuat Juventus menekuk Parma 2-1.
Saking dekatnya Khadafi dengan Juventus, putranya, Saadi Khadafi, sempat akan dimasukkan ke klub itu. Tetapi, Saadi akhirnya batal menjadi pemain Juventus dan kemudian bergabung dengan Perugia pada tahun 2003. Al Saadi juga sempat menjadi pemain Udinese dan Sampdoria meski pada kenyataannya ia nyaris tidak pernah merumput.
Nah, lantas bagaimana sikap Juventus dengan krisis di negara Khadafi sekarang? Juru bicara Juve, Marco Re kepada Bloomberg mengatakan mereka juga masih belum tahu dengan nasib saham Lafico di Juve.
"Saya tidak tahu apa yang akan mereka lakukan terhadap Juventus," ujar Re.
Yang jelas, menurut Marco, Lafico selalu mendukung Juventus. Juventus pun merasa tidak ada masalah dengan rezim Khadafi.
"Buat mereka, kami adalah investasi," ujarnya. (fay/nrl)











































