6 Tahun Soeharto Lengser, Apa Kabar Reformasi?
Jumat, 21 Mei 2004 06:55 WIB
Jakarta - Apa kabarmu reformasi? Kini, 21 Mei 2004, tepat 6 tahun Soeharto lengser dari kursi kepresidenan. Bagaimana nasibmu kini?Bergulirnya bola reformasi diawali dengan tragedi berdarah 12 Mei 1998, 4 mahasiswa Trisakti tewas tertembak. Kerusuhan pun terjadi. Mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR, hingga berbuntut tumbangnya rezim Soeharto yang sudah berkuasa 32 tahun pada 21 Mei 1998.Enam agenda reformasi pun dicetuskan. Yakni adili Soeharto, berantas korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), amandemen UUD 1945, hapus dwifungsi ABRI, otonomi daerah seluas-luasnya, dan tegakkan supremasi hukum.Reformasi kemudian menjadi jargon dalam kancah Pemilu 1999, dagangan laris manis. Parlemen hasil Pemilu 1999 kemudian mencoba merealisasikan agenda reformasi. Tidak mulus memang. Perbedaan interpretasi yang sarat kepentingan pribadi dan golongan mewarnai amandemen UUD 1945 yang digodok DPR.Penghapusan dwifungsi ABRI pun dilakukan. ABRI berubah nama menjadi TNI dan terpisah dari polisi. Keduanya mundur dari kancah politik mulai 2004. Otonomi daerah pun dicoba direalisasikan dengan sejumlah lubang di sana-sini.Pengadilan terhadap Soeharto dicoba dilakukan, namun lebih sering keok. Begitu juga dengan penegakan supremasi hukum, dan penegakan pemerintahan yang bersih dari KKN.Agenda reformasi berjalan terseok-seok dan akhirnya madek. Momen ulang tahun reformasi terjebak menjadi rutinitas aksi demo. Reformasi lebih sering dijadikan jargon politik. Tapi soal pelaksanaan, tidak ada yang berebutan. Kalaupun ada, hanya sebatas kata mengimbau dan mengingatkan. Tapi tidak ada aksi.Memasuki Pemilu legislatif 2004, reformasi kembali menjadi penghias bibir manis para politisi. Menjelang Pemilu presiden 2004, bagi-bagi kekuasaan berdasarkan hasi Pemilu menjadi topik terbuka tanpa ragu dan malu. Dengungan kata reformasi untuk sementara diistirahatkan.Ketika tiba saatnya 6 tahun reformasi dan lengsernya Soeharto, kata reformasi kembali menjadi favorit. Tapi kali ini sebagai jargon politik yang diekploitasi para capres dan cawapres.Ironisnya, melanjutkan agenda dan cita-cita reformasi nyaris tak lagi ada dalam benak masyarakat Indonesia. Lautan kekecewaan, tagihan listrik, telepon, ongkos, dan biaya pendidikan yang terus membengkak telah mengubur dalam-dalam kata reformasi. Belum lagi sejumlah tragedi bom dan kekerasan yang membuat siapapun bergidik. Masih perlukah reformasi dipikirkan dan diperjuangkan?Reformasi butuh perubahan radikal untuk perbaikan dalam suatu masyarakat dan negara. Perbaikan kehidupan itu sendiri identik dengan kesejahteraan plus rasa aman. Benarkah perbaikan itu sudah ada? Benarkah ada reformasi?
(sss/)











































