Dikatakan Abubaker Saad, kata-kata Khadafi menggambarkan keengganannya untuk bernegosiasi dengan para demonstran guna mengakhiri krisis.
"Setelah 42 tahun kekuasaannya, dan kemudian ada perlawanan rakyat di negara tetangga Tunisia dan Mesir, Anda akan berpikir dia akan mendapat pelajaran dari itu dan dia akan menawarkan kompromi atau negosiasi atau terbuka untuk dialog atau hal-hal seperti itu. Tapi kita tahu dia tidak akan melakukan itu dan sekarang seluruh dunia tahu itu," ujar Saad.
"Jika Anda pemimpin dan Anda tidak menawarkan kompromi apapun atau bahkan menerima ide untuk duduk dan berdialog, maka satu-satunya alternatif adalah menyingkirkan dia dan, pada dasarnya, dia harus dibunuh untuk benar-benar mengakhiri seluruh situasi ini," imbuh Saad yang kini menjadi profesor sejarah dan budaya non-Barat di Western Connecticut State University, AS.
Menurut Saad, seperti diberitakan Voice of America, Jumat (25/2/2011), para demonstran tidak akan menghentikan aksi mereka sebelum Khadafi mundur.
"Para demonstran, setelah 42 tahun, tidak akan menyerah, mereka tidak akan lagi bernegosiasi dengan dia karena mereka tidak mempercayai dia," tutur Saad.
Khadafi telah memerintahkan pasukan keamanan Libya untuk menindak keras para demonstran. Perintah Khadafi ini menuai kecaman dari para pemimpin dunia. Presiden AS Barack Obama menyebutkan, kekerasan aparat Libya melanggar norma-norma internasional. Obama bahkan telah memerintahkan tim keamanan nasional AS untuk menyiapkan serangkaian opsi guna mengatasi krisis Libya.
(ita/nrl)











































