Demikian seperti dilansir dari situs AFP, Kamis (24/2/2011). Tujuan utama evakuasi kebanyakan ke sejumlah negara Eropa yang letaknya berdekatan dengan Libya.
Kekacauan sempat terjadi di bandara Tripoli akibat begitu banyaknya orang yang ingin meninggalkan Libya menyusul terjadinya kerusuhan. Sekitar 1000-an warga asing menunggu di bandara Tripoli untuk bisa melarikan diri dari Libya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Libya mulai menjadi seperti neraka. Suasana bandara seperti itu sama sekali belum pernah saya lihat sepanjang hidup saya. Benar-benar kacau. Ada ribuan orang yang ngotot ingin keluar dari Libya," ujar salah seorang warga Inggris, Helena Sheehan.
Helena mengungkapkan hal tersebut sesaat setelah dirinya berhasil keluar dari Libya dan mendarat di Bandara Gatwick London dengan menggunakan pesawat khusus.
Sementara itu, Italia yang merupakan merupakan mitra dagang terbesar Libya memperingatkan bahaya krisis kemanusian yang bisa terjadi jika memang eksodus besar-besaran terjadi. Diketahui pula bahwa lebih dari 150 ribu pekerja di Libya berasal dari Asia.
China sendiri telah mengirimkan pesawatnya untuk mengevakuasi 30 ribu lebih warganya. Dimana 4 ribu diantaranya dievakuasi ke pulau terdekat, yakni Pulau Kreta, Yunani.
Sedangkan Thailand yang sebanyak 23 ribu warganya menjadi pekerja di Libya, menyatakan pihaknya tengah melakukan persiapan untuk mengevakuasi warganya ke Malta. Kemudian India menyatakan, kapal penumpang yang dikirimnya telah sampai di Libya untuk mengevakuasi sebagian dari total 18 ribu warganya ke Mesir.
(nvc/van)











































