Sekjen PBB Kecam Keras Israel
Kamis, 20 Mei 2004 15:16 WIB
Den Haag - Sekjen PBB Kofi Annan mengecam keras aksi pembunuhan dan pencederaan Israel terhadap demonstran Palestina di Rafah kemarin. UNICEF juga mengingatkan agar Israel mematuhi Konvensi Hak-hak Anak."Pembunuhan terhadap demonstran damai, sebagian besar wanita dan anak-anak, telah meresahkan Sekjen, yang telah menyampaikan belasungkawa dan simpati mendalam kepada keluarga para korban," demikian Annan, yang disampakan jurubicaranya, Fred Eckhard, melalui sebuah pernyataan.Eckhard menekankan bahwa superiornya itu sebenarnya telah berulangkali memperingatkan Israel, termasuk kemarin melalui Terje Roed-Larsen, utusan PBB untuk Timur Tengah, bahwa sebagai kekuatan kolonial Israel tetap berkewajiban melindungi penduduk sipil dan menghindari penggunaan kekuatan militer secara tidak proporsional atau tidak tanpa pandang bulu.Selain Sekjen, organ PBB UNICEF juga menyatakan keprihatinannya yang mendalam mengenai dampak operasi militer yang berlangsung di Jalur Gaza tersebut terhadap anak-anak, lebih khusus lagi serangan rudal yang terjadi kemarin, Rabu (19/5/2004), yang merenggut sedikitnya 10 nyawa. Sebagian besar dari mereka adalah anak-anak."Anak-anak Palestina memiliki hak untuk dilindungi dari segala aksi kekerasan di tengah konflik Israel-Palestina yang berlangsung saat ini," kata perwakilan khusus UNICEF di Yerusalem, David S. Bassiouni, seperti dipublikasikan di situsweb badan dunia itu. "Mereka memiliki hak atas tempat bernaung yang aman, akses ke sekolah dan pelayanan kesehatan yang aman pula," sambungnya.Dengan aksi terbaru Israel di Rafah dan perudalan massa demonstran itu sedikitnya 10 anak-anak Palestina tewas, termasuk seorang gadis remaja usia 16 tahun dan seorang bocah berusia 13 tahun. Sebagian besar anak-anak lainnya mengalami cedera dan semuanya menghadapi masalah psikososial."UNICEF menyeru Israel agar mematuhi Konvensi Hak-hak Anak dengan melindungi anak-anak dari kekerasan secara langsung dan menyediakan mereka yang kehilangan tempat bernaung dengan penampungan alternatif," ujar Bassiouni.Menurut Bassiouni, penggunaan kekerasan militer dimana anak-anak berada, hanya akan menyebabkan kematian anak-anak tak berdosa. Pihaknya menghimbau Israel agar mempertimbangkan dampak tersebut pada anak-anak Palestina. Sementara itu jurnal televisi Belgia, VRT, menyiarkan gambar anak-anak Palestina yang digotong bersimbah darah. Sebagian tangannya terlihat patah, sebagian lagi wajahnya berlumuran darah. Selain dirudal dari helikopter-helikopter tempur, saksi mata di depan kamera menceritakan bahwa tank-tank Israel juga secara sengaja menembakkan meriamnya ke arah massa, yang saat itu berdemo damai memprotes aksi pembunuhan dan penghancuran rumah-rumah mereka di Rafah.
(es/)











































