Panitia peringatan 1 abad Mr Sjafruddin ini diketuai oleh mantan Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat AM Fatwa. Fatwa berserta rombongan panitia, termasuk Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Solahuddin Wahid dan putra Mr Sjafruddin, Farid Sjafruddin, menemui Wapres Boediono di Kantor Wapres, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (24/2/2011).
"Tanggal 28 Februari nanti di Bank Indonesia akan dimulai acara peringatan 1 abad Mr Sjafruddin. Mengapa di BI? Sebab Sjafruddin mempunyai pengaruh yang monumental di BI. Di BI, kan, juga ada Gedung Mr Sjafruddin," kata Fatwa dalam jumpa persnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bapak Wakil Presiden berharap seluruh hasil seminar itu akan bisa diterbitkan menjadi buku," ucap Fatwa.
Berdasarkan agenda kegiatan yang dibagikan kepada wartawan, ada beberapa buku yang akan diterbitkan menyambut 1 abad Mr Sjafruddin ini. Di antaranya adalah "Sjafruddin Prawiranegara Lebih Takut kepada Allah," dan "Presiden Prawiranegara, Kisah 209 hari Mr Sjafruddin Memimpin Indonesia."
Selain seminar dan penerbitan buku, panitia juga mengadakan mengagendakan pembuatan film dokumenter tentang Mr Sjafruddin. Lalu, dipamerkan pula sejumlah foto-foto perjuangan Mr Sjafruddin.
Mr Sjafruddin lahir di Serang, Banten, 28 Februari 1911, merupakan anak dari seorang jaksa bernama Arsyad Prawiraatmadja. Mr Sjafruddin menempuh pendidikan di ELS pada tahun 1925, MULO di Madiun tahun 1928, dan AMS Bandung tahun 1931. Pendidikan tingginya adalah Rechtshogeshool Jakarta (sekarang Fakultas Hukum Uviversitas Indonesia) tahun 1939 dan berhasil meraih Meesterning de Rechten (Magister Hukum).
Mr Sjafruddin adalah anggota Badan Pekerja KNIP (1945), yang bertugas mempersiapkan garis besar haluan negara RI sebelum merdeka. Pada saat Agresi Militer Belanda ke II tahun 1948, pemerintah RI di bawah Presiden Soekarno dan Wapres Mohamad Hatta di Yogyakarta jatuh dan keduanya diasingkan. Mr Sjafruddin ditugaskan untuk mendirikan PDRI yang berpusat di Sumatera.
Setelah disepakatinya perundingan Roem-Royen, yang mengakhiri upaya Belanda sekaligus membebaskan Soekarno-Hatta, diadakan sidang antara PDRI dengan kedua tokoh proklamasi itu pada 13 Juli 1949. PDRI menyerahkan mandatnya kepada pemerintah RI hari itu juga.
Mr Sjafruddin adalah pejabat menteri keuangan pertama RI. Setelah PDRI yang diketuainya menyerahkan mandat, ia sempat diangkat sebagai Wakil Perdana Menteri pada tahun 1949. Ia kembali diangkat menjadi Menkeu di kabinet Hatta pada Maret 1950 dan menelurkan kebijakan yang cukup terkenal saat itu, yakni pengguntingan uang dari nilai Rp 5 ke atas (Gunting Sjafruddin).
(irw/van)











































