Syafi'i Ma'arif: Waspadai Calon Penguasa Bermental Bubuk
Kamis, 20 Mei 2004 14:20 WIB
Yogyakarta - Tahukah Anda bubuk? Di Jawa, itu adalah sejenis serangga pemangsa kayu. Nah, saat ini Indonesia ibarat kayu yang dimakan bubuk. Di luar kelihatan halus, tapi di dalamnya sudah keropos. Tapi yang paling penting, waspadai calon penguasa bermental bubuk yang bisa membuat Indonesia kian keropos.Hal itu dikemukakan oleh Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah Prof Dr HA Syafi'i Ma'arif di hadapan sekitar 300 kader Muhammadiyah se-Jawa Bali di kampus terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di Ringroad selatan Yogyakarta, Kamis (20/5/2004).Menurut Syafi'i, amsal Indonesia seperti kayu dimakan bubuk itu diperolehnya deri perbincangan dengan Basani, seorang pemilik bengkel dan cuci mobil di dekat tempat tinggalnya di Nogotirto Gamping Sleman, tempat dia berlangganan ganti oli mobilnya.Bagi Syafi'i, analogi tersebut sangat tajam dan mengenai sasaran, karena memang demikianlah keadaan Indonesia. "Di sisi lain, kaum elit Indonesia asyik dengan traksaksi dagang sapi untuk bagi-bagi kue kekuasaan kalau jago mereka nanti menang dalam pilpres nanti," katanya.Untuk menyelamatkan kayu keropos seperti yang diamsalkan itu, kata Syafi'i, tidak mungkin dimasukkan serbuk kayu lain ke dalamnya, sebab tidak akan merekat. Satu-satunya cara adalah mencurahkan sejenis liquid (cairan) yang punya daya tempel kuat ke dalam kayu yang berlubang sehingga kayu dapat diselamatkan dan bubuknya mati. "Dan, itulah tugas utama presiden yang akan datang, kalau saja pandai membaca peta," katanya.Menurut guru besar Universitas Negeri Yogyakarta itu, bubuk atau yang disebut asai adalah sejenis serangga kecil, pendek, berwarna abu-abu kekuning-kuningan, ekor runcing bercabang dua, lembut tapi ganas. Bahkan volume air liurnya tidak sampai sebesar setetes embun itu, mampu meluluhkan benda-benda keras seperti tiang rumah, almari kursi dll."Para penguasa bermental "bubuk" itulah yang berjasa membawa negeri ini ke ambang kehancuran. Mental "bubuk"-lah yang terlibat dalam berbagai praktek money politics untuk sebuah posisi politik di negara yang sedang kehilangan harga diri dan martabat ini," ujar Syafii.Dia mengatakan, sampai saat ini masih ada peluang pada penguasa yang bermental bubuk untuk terus menggerogoti bangunan kayu republik yang rentan tiupan angin. Bubuk itu tidak lain adalah penguasa yang lupa daratan, koruptor di dalam dan di luar sistem birokrasi, para koruptor yang telah lama mengisap susu republik dan menggantinya dengan racun. "Dengan demikian kita belum siuman sampai detik ini," katanya.Untuk memperbaiki, kata Syafi'i, jawabannya tergantung dari pemimpin yang dihasilkan pilpres mendatang. Menurutnya, bubuk pembinasa kayu yang masih berkembang biak di republik ini perlu secepatnya dituangkan sebuah cairan sebelum terlambat dan sebelum Indonesia masuk ke dalm sebuah museum sejarah.
(nrl/)











































