Komisaris Tinggi UNHCR Dituduh Melakukan Pelecehan Seksual
Kamis, 20 Mei 2004 02:28 WIB
Den Haag - Mantan perdana menteri Belanda Ruud Lubbers, yang kini menjabat Komisaris Tinggi PBB urusan pengungsi, UNHCR, dituduh melakukan pelecehan seksual. Lelaki gaek berambut perak itu membantah.Koran The New York Times mengutip korban yang enggan ditulis identitasnya memberitakan, Rabu (19/5/2004), bahwa Lubbers (65) telah 'menjamah bagian belakang' tubuh pegawai wanita UNHCR itu. Korban butuh waktu lama untuk mengambil sikap apakah akan melaporkan kejadian itu atau tidak. Setelah berunding dengan para kolega, akhirnya dia memutuskan untuk melaporkan hal itu. Lagipula, ternyata masih banyak pegawai wanita di UNHCR yang mengalami pelecehan seksual dari Lubbers seperti dirinya. Namun karena takut kehilangan pekerjaan, mereka enggan melapor.Di Belanda, kampung halaman Lubbers, berita tersebut seperti api menjalar di padang ilalang kering. Media setempat memberi perhatian luas pada masalah itu. Maklum, selain mantan perdana menteri dan tokoh terhormat, Lubbers juga berasal dari partai berbasis agama, Christen Democratisch Appel (CDA). Meneer Lubbers kontan saja membantah kabar tak sedap, yang konon terjadi seusai acara pada 18 Desember 2003 itu. Ia mengatakan bahwa dirinya tidak pernah berbuat tak senonoh seperti dituduhkan. Namun perkara telah terlanjur menggelinding. Dinas internal Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang khusus menangani perkara semacam itu kini telah turun tangan untuk memeriksa laporan tentang ulah genit petinggi UNHCR tersebut. Jika laporan terbukti benar, maka akan diteruskan ke Sekjen PBB Kofi Annan untuk diambil tindakan.Tidak PercayaKabar panas menyangkut susila seperti menimpa Lubbers, sudah pasti ikut mempengaruhi anak istri di rumah. Ria Lubbers, sang nyonya mengaku sedih dan tidak nyaman. Bukan berarti dia percaya suaminya benar berbuat seperti dituduhkan, namun karena terpaan seperti itu memang membuat tidak enak, terutama di masyarakat."Saya secuilpun tidak percaya. Saya kenal Ruud. Dia orangnya ramah dan dengan mudah merangkul orang di sekitarnya," kata nyonya Lubbers sambil tertawa renyah.Menurut nyonya Lubbers, suaminya telah sering mengalami cobaan semacam itu. Pernah, katanya, Lubbers dituduh memiliki anak di luar nikah yang saat ini telah berusia 52 tahun, padahal usia suaminya itu baru 65 tahun. Ia pun yakin tuduhan terbaru yang menimpa suaminya juga tidak benar. Diceritakan, bahwa pengakuan wanita itu sebenarnya sebagai upaya balas dendam pada Lubbers. "Wanita itu sebelumnya melamar kerja pada Lubbers (UNHCR) untuk posisi yang buat dia terlalu tinggi. Lubbers terus terang mengatakan hal itu dan akhirnya memberi wanita itu posisi lain," ungkap nyonya Lubbers.Nah, seusai acara pada Desember 2003 itu, Lubbers secara spontan merangkul wanita tadi, sesuatu yang menurutnya biasa-biasa saja karena karakter suaminya yang memang hangat dan ramah. "(Dengan pengaduan itu) Wanita tadi memang ingin balas dendam karena gagal meraih posisi pekerjaan yang diincarnya," demikian nyonya Lubbers.Bagaimana kalau kejadiannya benar seperti dituduhkan itu? "Mungkin dia memang menjamah bagian belakangnya. Tapi tidak, dia tidak sevulgar itu," sergah nyonya Lubbers. Menurut dia, hoge bomen vangen nu eenmaal veel wind, pohon tinggi memang banyak menerima terpaan angin. "Dan soal ini akan terbang berlalu," katanya.
(es/)











































