"Rakyat AS mengucapkan belasungkawa yang terdalam kepada keluarga dan yang terkasih yang tewas dan terluka. Penderitaan dan pertumpahan darah ini keterlaluan dan tidak bisa diterima. Demikian juga ancaman dan perintah menembaki pendemo damai dan kemudian menghukum rakyat Libya. Hal ini melanggar norma-norma internasional dan setiap standar kesusilaan umum. Kekerasan ini harus dihentikan," tegas Obama seperti dilansir Reuters.
Pidato ini disampaikan Obama Rabu (23/2) sekitar pukul 17.15 waktu setempat atau 05.15 WIB, Kamis (24/2/2011). Sebelum berpidato, Obama berdiskusi dengan Menlu Hillary Clinton.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini adalah hak asasi manusia. Mereka tidak bisa ditawar. Mereka harus dihormati di setiap negara. Dan mereka tidak bisa dipungkiri melalui kekerasan atau penekanan," ujar Obama.
Obama menyatakan, dalam situasi tidak stabil seperti ini, sangat penting bahwa negara-negara dan bangsa di dunia berbicara dengan satu suara, dan itu juga menjadi fokus AS. "Kemarin Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat mengirim pesan yang jelas untuk mengutuk kekerasan di Libya, mendukung pertanggungjawaban bagi pelaku, dan berdiri dengan rakyat Libya," tutur Obama. Dia melanjutkan, pesan yang sama juga telah disampaikan oleh Uni Eropa, Liga Arab, Uni Afrika, Organisasi Konferensi Islam, dan banyak negara. Utara dan selatan, timur dan barat, satu suara menentang penindasan dan mendukung hak-hak rakyat Libya.
Muammar Khadafi berpidato tak beraturan dengan penuh kemarahan pada Selasa (22/2) di televisi pemerintah. Dia mengklaim rakyat Libya bersamanya dan menyerukan agar "tikus-tikus" yang berusaha menumbangkannya ditumpas. Dia juga tidak akan pergi dari tanah nenek moyangnya dan akan berjuang hingga titik darah penghabisan. Bila dia mati, maka dia akan mati syahid. (nrl/mok)











































