"Secara fisik tidak sama, tapi secara tataran ideologi sama-sama radikal," kata Ansyaad Mbai usai pelantikan pejabat eselon I BNPT di Kantor Kemenko Polhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu (23/2/2011).
Ansyaad menjelaskan, para perusuh itu merasa memiliki pemahaman keagamaan yang paling benar. Mereka merasa menjadi wakil Tuhan untuk menghakimi siapa saja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ansyaad meminta agar petugas kepolisian tidak selalu disalahkan dalam kerusuhan itu. Hal ini karena kepolisian khawatir dianggap melanggar HAM jika mengambil tindakan tegas saat kerusuhan terjadi.
"Tembakan peringatan tidak akan digubris. Tembakan ke kaki hanya akan buat massa tambah marah," katanya.
Ansyaad menyatakan, tidak mudah menggumpulkan petugas kepolisian di Pandeglang. Selain itu jumlahnya juga belum tentu cukup untuk menghalau massa.
"Sekrang ada berapa polsi di Pandeglang atau Banten, paling banyak 700 orang. Mereka juga tidak tinggal di asrama seperti TNI yang bisa dikumpulkan dalam lima menit," sambungnya.
Menurutnya, yang saat ini perlu dipikirkan adalah bagaimana menambah kekuatan kepolisan di tingkat polres. Selain itu juga harus dicari solusi untuk menambah truk sehingga polisi bisa menangani kerusuhan dengan cepat
"Jadi jangan selalu menyalahkan polisi," imbau Asyaad.
Bentrokan antara warga dengan jemaat Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten terjadi pada Minggu (6/2). Tiga orang anggota Ahmadiyah tewas dan 5 orang lainnya luka-luka.
(nal/vit)










































