Pantauan detikcom, Rabu (23/2/2011) mereka memecahkan kaca sejumlah ruangan maskapai penerbangan perintis di areal ruang tunggu Bandara. Belasan pegawai bandara dan maskapai berlarian menyelamatkan diri akibat amukan calon penumpang tersebut.
Puluhan calon penumpang ini sudah berada di bandara sejak 2 minggu terakhir. Ketiadaan pengoperasian pesawat Sabang Merauke Air Charter (SMAC) tujuan Long Apung, Apo Kayan, membuat calon penumpang warga perbatasan habis kesabaran. Mereka menilai tidak ada upaya serius dari Pemprov Kaltim untuk memfasilitasi keberangkatan mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tidak hanya itu, mereka juga memecahkan belasan pot kembang, membongkar sejumlah berkas dokumen maskapai tersebut serta mematahkan sejumlah meja pelayanan calon penumpang. Pintu masuk bandara pun ikut disegel.
"Kami tidak perlu janji (pengoperasian pesawat ke perbatasan). Kami ingin bukti," kata seorang calon penumpang.
Usai insiden pengrusakan itu, tidak ada satupun dari pelaku yang diamankan kepolisian. Puluhan peralatan Dalmas seperti tameng dan rotan, hanya ditumpuk di atas truk tanpa dipergunakan sebagaimana mestinya.
Sejumlah pejabat Pemprov Kaltim seperti Kepala Badan Pembangunan dan Pengelolaan Perbatasan Adri Paton serta Kepala Dinas Perhubungan Kaltim Zairin Zain, terlihat di lokasi untuk menenangkan aksi warga perbatasan tersebut.
Penjabat sementara (Pjs) Kepala Cabang SMAC Samarinda Oetay Ruchyat membenarkan penghentian operasional SMAC di Samarinda, termasuk keberangkatan pesawat ke kawasan perbatasan, Long Apung, Apo Kayan.
"Sudah berhenti sejak 14 Februari, tepatnya saat insiden pesawat SMAC di Bintan, Kepulauan Riau beberapa waktu lalu," ujar Oetay.
Menurut Oetay, kebijakan penghentian operasional SMAC tersebut merupakan kebijakan kantor pusat SMAC di Jakarta. Ini adalah permintaan Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) yang tengah menyelidiki insiden jatuhnya pesawat SMAC.
"Memang dari pusat yang meminta operasional dihentikan," jelas Oetay.
Untuk menghindari aksi berlanjut di hari mendatang, Oetay mengatakan pihaknya telah melakukan lobi terhadap pengelola Bandara Temindung dan maskapai lainnya yang ada di Samarinda.
"Akan ada penerbangan gratis 2 hari, 3 kali penerbangan. Kemungkinan besar menggunakan Susi Air," tambah Oetay.
Ditemui detikcom, Kabag Operasional Polresta Samarinda Kompol I Nyoman Mertha Dana mengatakan, sikap diam yang ditunjukkan personelnya di lapangan saat mengamankan aksi unjukrasa terlebih untuk menghindari bentrokan kedua belah pihak.
"Kita menghindari gesekan dengan pengunjuk rasa," ujar Mertha Dana.
Usai menduduki areal apron bandara dan melakukan aksi pengrusakan, pengunjuk rasa menyudahi aksinya sekitar pukul 13.30 WITA. Ruang keberangkatan terlihat berantakan dan kaca berserakan. Akibatnya, aktivitas operasional bandara sementara ditutup dari penerbangan. Kondisi itu mengakibatkan calon penumpang lainnya, kecewa dan tidak menyangka adanya aksi tersebut.
"Saya mau ke Berau. Kalau penerbangan ditutup seperti ini, ya saya tidak tahu lagi kapan saya berangkat," ujar Maimunah, salah seorang calon penumpang kepada detikcom.
Kepala Badan Perbatasan Mundur
Atas aksi perusakan ini, Kepala Badan Pembangunan, Pengelolaan Perbatasan dan Daerah Tertinggal (BPPDT) Kaltim, Adri Paton mengundurkan diri. Dia menilai pembangunan perbatasan Kaltim-Malaysia yang dicanangkan pemerintah pusat, memang hanya janji belaka tanpa realisasi.
"Dua tahun saya memimpin, tidak ada kemajuan setelah saya evaluasi. Terlebih lagi dengan aksi seperti ini, menunjukkan Badan Perbatasan tidak mempunyai kemampuan untuk membangun perbatasan," ujar Adri Paton di sela aksi unjuk rasa penumpang di Bandara Temindung, Samarinda.
Meski belum menyampaikan pengunduran dirinya kepada Gubernur Kaltim Awang Farouk Ishak, Adri menyatakan tetap mengundurkan diri. "Belum ke Gubernur. Saya tetap mengundurkan diri," tutupnya.
Tokoh masyarakat perbatasan, Oktavianus Daud Linjau dalam kesempatan yang sama, menyambut baik keputusan Adri Paton. Daud meminta pemerintah pusat dapat membuka mata dan telinga memperhatikan masyarakat perbatasan.
"Kami ini juga WNI. Selama ini janji pemerintah bangun perbatasan hanya nol besar," kata Daud.
(fay/fay)










































