"Kalau dibatasi jelas berat ke kita. Kalau gitu caranya mobil (angkot) bakal banyak nganggur," kata salah seorang sopir Kopamilet M 01 (Kampung Melayu-Senen), Dedi (38), saat ditemui detikcom, di Terminal Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur, Rabu (23/2/2011).
Dedi menuturkan, dalam sehari dia biasa menghabiskan sekitar 20-25 liter premium untuk 10 kali perjalanan jurusan yang biasa dituju pulang-pergi. Sementara di hari perdana ujicoba pemerintah, informasi yang dia terima pemerintah memberikan batas 15 liter per hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Senada dengan sopir lainnya, Simanjuntak (46), juga menilai pembatasan BBM bersubsidi untuk angkot yang biasa ia bawa cukup memberatkannya. Pasalnya, angkotnya itu beroperasi 24 jam melayani penumpang. Sementara kebutuhan bensin diperkirakan mencapai 40 liter per harinya.
"Kalau dibatasi berarti kita enggak bisa bawa angkutan malam, kalau begitu target setoran ke bandar agak susah," kata sopir Kopamilet M 01A ini.
Markus (68), sopir Kopamilet M 01A lainnya juga menyampaikan keberatannya atas pembatasan subsidi BBM. Angkot yang biasa dipacunya biasa menyedot 20 liter per hari untuk operasional dari pukul 06.00 sampai pukul 19.00 WIB.
"Kalau dibatasi 15 liter per hari kira-kira cuma bisa narik sampai jam 2 siang saja," kata Markus.
Hari ini, pemerintah melakukan uji coba pembatasan BBM bersubsidi dengan menempelkan stiker khusus di seluruh angkot M01 jurusan Kampung Melayu-Senen.
Menurut Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta, Udar Pristono pemasangan stiker yang dilengkapi barcode itu untuk 409 kendaraan di tahap awal. Dari jumlah itu, 305 kendaraan sudah tercantum di sistem informasi manajemen.
Ia mengatakan, dari jumlah angkot itu, sebanyak 246 merupakan angkot M 01, 106 angkot M 01A, 8 angkot M 01B dan 15 angkot M 01C. Pemerintah juga menempatkan alat pembaca barcode di 5 SPBU tempat biasa angkot tersebut membeli BBM.
Kendaraan yang dapat membeli BBM subsidi adalah kendaran umum yang pajak dan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) masih berlaku dan memiliki kartu pengawasan. Ia berharap, sistem stikerisasi ini bisa mendata jumlah angkot dengan baik sehingga mudah diawasi.
(ahy/nwk)










































