Senator John Kerry yang menjabat sebagai ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS, mendesak Gedung Putih untuk mempertimbangkan diberlakukannya kembali sanksi-sanksi keras terhadap Libya.
"Para pemimpin dunia harus bersama-sama membuat Kolonel Khadafi tahu bahwa tindakan pengecutnya akan mendapat konsekuensi," cetus Kerry seperti dilansir Reuters, Rabu (23/2/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anggota DPR dari Partai Republik, Ileana Ros-Lehtinen mencetuskan, pemerintah AS harus menerapkan sanksi-sanksi ekonomi, termasuk pembekuan aset rezim Khadafi dan penerapan larangan perjalanan.
Di luar Gedung Putih, beberapa demonstran anti-Khadafi berkumpul dan meneriakkan "Gedung Putih di mana Anda? Libya membutuhkanmu sekarang."
Beberapa pengkritik mempertanyakan sikap diam Obama atas kekerasan di Libya yang telah merenggut banyak jiwa.
Obama memang tidak banyak angkat bicara mengenai Libya. Ini berbeda dengan Kanselir Jerman Angela Merkel yang mengatakan akan mendukung sanksi-sanksi jika Khadafi tidak menghentikan kekerasan terhadap demonstran.
Padahal Obama kerap melontarkan pernyataan mengenai pergolakan di Tunisia, Mesir dan Bahrain. Namun menurut sejumlah analis, sikap diam Obama mengenai Libya merupakan taktik yang disengaja.
Menurut Daniel Serwer, pengamat dari Johns Hopkins University's School of Advanced International Studies, berbicara langsung mengenai Khadafi bukanlah ide yang bagus. "Orang ini (Khadafi) jelas menyukai perhatian jadi mengabaikan dia mungkin ada manfaatnya," ujarnya.
(ita/nrl)











































