Kepala Bidang Perumahan Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Provinsi Jawa Tengah, Endah Tri Wahyuni mengatakan, dana pembangunan huntara tahun 2010 untuk korban erupsi Merapi masih tersisa senilai Rp 1,7 miliar.
"Dana sebesar ini akan digunakan membangun 100 huntara yang akan didirikan di Desa Jumoyo, Salam dan Sirahan, Ngluwar yang sifatnya mendesak untuk pengungsi banjir lahar dingin," tegas Endah Tri Wahyuni di sela-sela kunjungannya di huntara Desa Banyubiru, Kecamatan Dukun, Magelang, Jawa Tengah, Selasa (22/2/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sambil menunggu dana pembangunan yang diajukan ke BNPB sebesar Rp 3,2 miliar dicairkan. Sementara pembangunan huntara di Banyubiru, sudah selesai dan siap ditempati," ucap Endah.
Endah meminta Pemkab Magelang untuk segera memproses kepindahan warga yang akan menempati huntara tersebut. Pemindahan harus sesegera mungkin karena semua fasilitas baik air, listrik, maupun fasilitas lain sudah dilengkapi.
Sementara staf Bagian Cipta Karya DPU dan ESDM Magelang, Wahyu Hernowo, yang mendampingi Dinas Cipta Karya Provinsi, mengatakan, saat ini sudah melakukan koordinasi dengan dinas terkait soal pemindahan warga tersebut ke huntara. Huntara rencananya ditempati akhir Februari 2011.
Di lapangan Banyubiru, dibangun empat kavling atau terdiri delapan unit huntara ditambah satu unit huntara tambahan. Masing-masing kavling nilainya Rp 21 juta atau sekitar Rp 10,5 juta setiap unitnya. Setiap unit dilengkapi 2 kamar tidur, kamar tamu atau ruang keluarga, dapur, kamar mandi serta listrik dan air bersih.
Kasi Kesra Kecamatan Dukun Teja Suwarna menyatakan, meski bangunan huntara di Banyubiru sudah selesai dan siap ditempati, namun animo warga korban erupsi Merapi untuk menempatinya sangat minim. Mereka memilih bertahan di pengungsian.
"Dari sembilan unit yang ada, warga yang bersedia menempatinya baru dua orang. Yang lainnya mengundurkan diri setelah membuat pernyataan mau pindah ke huntara," tutur Teja Suwarna.
Peminat huntara justru adalah korban lahar dingin Merapi. Dari 21 KK yang menjadi korban banjir lahar dingin, yang sudah mendaftarkan diri dan menyatakan siap menempati ada 10 KK.
"Mereka ini berasal dari Dusun Selobendo Desa Banyudono, kebanyakan rumah mereka hilang diterjang banjir beberapa waktu lalu," ungkap Teja.
(fay/fay)











































