Won Sei-Hoon adalah orang kepercayaan Presiden Lee Myung-Bak, yang memimpin NIS sejak dua tahun lalu.
Desakan mundur datang dari politisi oposisi, partai yang berkuasa yaitu Grand National Party (GNP) maupun tajuk rencana sejumlah harian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tajuk rencana koran Chosun Ilbo mengungkapkan keprihatinan bahwa Korsel bisa kehilangan deal penjualan senjata senilai 1 miliar dolar karena kesalahan "absurd" oleh intelijen NIS.
"Presiden harus mereshuffle kepempimpinan di NIS atau meminta mereka diam untuk kepentingan nasional bila dia (Presiden) tidak mau melakukannya," tulisnya.
Harian Dong-A Ilbo juga mendesak Won mundur dan dalam editorialnya menyebut pembobolan kamar delegasi RI itu sebagai "sebuah malu nasional dan kesalahan diplomatik."
Sedangkan editorial surat kabar JoongAng Ilbo mengatakan, "Kami tercengang atas kualitas kegiatan intelijen kita, khususnya di bila dihadapkan dengan ancaman militer Korea Utara." Sementara di Indonesia, masalah ini telah dianggap beres. Pasalnya, di laptop yang sempat dibawa oleh 3 orang yang "salah masuk kamar" itu, tidak ada data penting yang perlu dikhawatirkan.
(nrl/vit)










































